BUDAYA : DARI FUNGSI KE AKTUALISASI

Fungsi Budaya

Ada 12 fungsi budaya yaitu (Ernawan, 2011): (1) Sebagai identitas dan citra suatu masyarakat. Identitas ini terbentuk oleh berbagai faktor seperti sejarah, kondisi dan posisi geografis, sistem sosial, politik dan ekonomi, dan perubahan nilai di dalam masyarakat (Charles Hampden-Tumer, 1994; Cameron & Quinn, 2006). Perbedaan dari identitas budaya dapat mempengaruhi kebijaksanaan pemerintahan di berbagai bidang; (2) Sebagai pengikat suatu masyarakat. Kebersamaan adalah faktor pengikat anggota masyarakat yang kuat; (3) Sebagai sumber. Budaya merupakan sumber inspirasi, kebanggaan, dan sumber daya; (4) Sebagai kekuatan penggerak dan pengubah. Karena budaya terbentuk melalui proses belajar-mengajar maka budaya itu dinamis, resilien, tidak statis, dan tidak kaku; (5) Sebagai kemampuan untuk membentuk nilai tambah. Ross A. Webber mengaitkan budaya dengan manajemen, John P. Kotter dan James L. Heskett menghubungkan budaya dengan kinerja, Charles Hampden-Turner dengan kekuatan organisasional dan keunggulan bisnis; (6) Sebagai pola perilaku. Budaya berisi norma tingkah laku dan menggariskan batas toleransi sosial (Hofstede, 1984; Cameron & Quinn, 2006); (7) Sebagai warisan. Budaya disosialisasikan dan diajarkan kepada generasi berikutnya; (8) Sebagai substitusi formalisasi. Budaya yang kuat akan meningkatkan konsistensi perilaku sehingga tanpa diperintah orang melakukan tugasnya (Robbins & Judge, 2009); (9) Sebagai mekanisme adaptasi terhadap perubahan. Dilihat dari sudut ini, pembangunan seharusnya merupakan proses budaya. Teori ini digunakan sebagai dasar pendekatan pembentukan lembaga dalam pembangunan sebagai perubahan sosial yang berencana; (10) Sebagai proses yang mempersatukan. Melalui proses berbagi nilai masyarakat dipersatukan ibarat rantai; (11) Sebagai produk proses usaha mencapai tujuan bersama dan sejarah yang sama; dan (12) Sebagai program mental sebuah masyarakat (Hofstede, 1984).

 

Tingkat Budaya

            Hofstede (1984) mengemukakan ada tiga atau lima tingkat budaya  yaitu universal, kolektif dan individual. Atau universal, regional, nasional, lokal, dan pribadi. Schein (2004) juga mengidentifikasi tiga tingkat budaya. Ketiganya berada antara yang konkret dengan yang abstrak: (1) Artefak yaitu struktur dan proses organisasional purba yang dapat diamati tetapi sulit ditafsirkan; (2) Nilai yaitu tujuan, strategi, filsafat; dan (3) Asumsi Dasar yaitu kepercayaan, persepsi, perasaan yang menjadi sumber nilai dan tindakan.

Jika dihubungkan dengan nilai dan lembaga dimana nilai itu tertanam maka tingkat budaya dapat diidentifikasi menurut kejelasan nilai, kuantitas dan kualitas berbagi nilai di dalam masyarakat, sedalam suatu nilai tertanam (dibudayakan) di dalam diri seseorang, dan sejauh mana proses budaya berjalan sebagai proses belajar. Semakin banyak anggota masyarakat yang menganut, memiliki dan menaati suatu nilai maka semakin tinggi tingkat budaya. Dilihat dari sudut pandang ini maka ada budaya global, budaya regional, budaya bangsa, budaya daerah, budaya kelompok, dan budaya setempat (Ernawan, 2011).

 

Terbentuknya Budaya dan Aktualisasinya

Ada 2 proses terbentuknya budaya yaitu (Ernawan, 2011); (1) Pembentukan atau terbentuknya budaya melalui peniruan, penganutan, dan penaatan skenario (tradisi, pemerintah) dari atas atau dari luar pelaku budaya yang bersangkutan; (2) Pembentukan budaya secara terprogram melalui proses belajar. Pola ini bermula dari dalam diri pelaku budaya, dari suatu kebenaran, keyakinan, anggapan dasar atau kepercayaan dasar yang dipegang teguh sebagai pendirian, dan diaktualisasikan menjadi kenyataan melalui sikap dan perilaku. Kebenaran itu diperoleh melalui pengalaman dan pengkajian, trial and error dan pembuktian.

Budaya yang (telah) terbentuk, beraktualisasi ke dalam dan ke luar pelaku budaya menurut dua cara (Ernawan, 2011) yaitu; (1) Aktualisasi budaya yang berbeda antara aktualisasi ke dalam dengan aktualisasi ke luar. Orang Barat cenderung blak-blakan dalam cara mereka mengekspresikan diri, sedangkan orang Indonesia suka menyajikan hal-hal dengan baik dan dengan cara yang tidak menyakiti perasaan tersinggung. Untuk sebagian besar, ini juga tercermin dalam cara mereka menggunakan bahasa mereka (Mann, 1998); (2) Aktualisasi budaya yang tidak menunjukkan perbedaan antara aktualisasi ke dalam dengan aktualisasi ke luar. Pelaku budaya yang overt selalu berterus terang dan langsung pada pokok pembicaraan. Sebaliknya dengan budaya yang covert.

 

Oleh: Nicholas Simarmata, M.A.

 

Pustaka

Cameron, K.S. & Quinn, R.E. (2006). Diagnosing And Changing Organizational Culture: Based On The Competing Values Framework. Revised Edition. USA: Jossey-bass.

Ernawan, E.R. (2011). Organizational culture: Budaya organisasi dalam perspektif ekonomi dan bisnis. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Hampden-Turner, C. (1990). Corporate Culture: From Vicious to Virtuous Circles. London, Great Britain:  Hutchinson Business Books. ISBN: 9780091746650.

Hofstede, G. (1984). Culture’s Consequences: International Differences in Work-Related Values. London:  SAGE Publications, Inc. ISBN 9780803913066.

Mann, R.I. (1998). The Culture of Business in Indonesia. California: Gateway Books. ISBN 0921333803.

Robbins, S.P. & Judge, T.A. (2009). Organizational Behavior. New Jersey: Prentice-Hall International Inc.

Schein, E.H. (2004). Organizational Culture and Leadership. San Francisco: Jossey-Bass. ISBN 0-7879-6845-5

Related Blog

Leave a CommentYour email address will not be published.