Pemberdayaan Karyawan : Inner – Entrepreneurship Organisasi

General Electric’s most important product is not a light bulb, but a managerial talent”, begitu kata Charles Coffin sewaktu menjabat sebagai CEO (Chief Executive Officer) perusahaan General Electric (GE) yang pertama pada tahun 1920an. Perusahaan penghasil lampu GE yang berpusat di Amerika merupakan perusahaan raksasa yang mempunyai ribuan karyawan dan sudah menghasilkan jutaan produk yang tersebar di seluruh dunia serta pernah dipimpin oleh CEO yang dijadikan model sebagai pemimpin yang ideal yaitu Jack Welch. Begitu luar biasanya kinerja dan sepak terjang perusahaan ini selama puluhan tahun, tidak lain dan tidak bukan, perusahaan ini meletakkan titik utama tidak hanya pada produknya saja, melainkan pada karyawannya sebagai bagian vital dari perusahaan pada segi operasional dan berada pada garda depan.

 

Karyawan

Karyawan merupakan bagian penting dari organisasi yang sampai saat ini masih menjadi bahan perdebatan dan kajian dalam hal bagaimana menanganinya secara efektif sehingga kinerjanya bisa produktif dan efisien. Banyak hal yang terdapat di dalam diri karyawan terkait dengan keberadaannya di dalam organisasi. Dari sisi eksternal seperti; perencanaan, desain pekerjaan, analisis jabatan, perekrutan, seleksi, wawancara, penempatan, pengukuran kinerja, pengembangan karir, gaji, tunjangan, kesehatan, keselamatan, kinerja, konflik, PHK, dan pensiun. Dari sisi internal seperti; motivasi, kepribadian, emosi, sikap, kepuasan, stres, dan kepribadian. Selain itu, karyawan juga terkait dengan lingkungan sosialnya seperti kerjanya, atasan, bawahan, keluarga, dan masyarakat dimana perusahaan itu berada. Ini semua dapat mempengaruhi perilaku dan kinerjanya yang pada akhirnya mempengaruhi pula maju tidaknya organisasi dimana karyawan tersebut bekerja.

Karyawan juga menjadi inti dan bagian penting di dalam organisasi. Merekalah yang melaksanakan visi, misi, tata nilai, dan strategi organisasi. Merekalah yang mengoperasionalkan dan menjalankan tujuan organisasi. Mereka pula yang paling tahu kondisi di lapangan kerja karena merekalah yang setiap hari dan setiap waktunya berada di lapangan kerja serta menghadapi dan mengalami semua kejadian di lapangan kerja. Disini bisa diilustrasikan bahwa karyawan ibarat kaki dan tangan dari suatu organisasi agar organisasi itu bisa berjalan ke depan serta meraih apa yang dicita-citakan. Namun, jika organisasi ingin maju dan berkembang, organisasi tidak cukup hanya memiliki dan mempunyai karyawan. Harus ada tindakan lebih dan nyata dari pihak jajaran atas dalam organisasi di dalam memperlakukan karyawan. Salah satu caranya adalah dengan memberdayakannya.

 

Pemberdayaan

Saat ini, pemberdayaan karyawan menjadi sesuatu hal yang penting karena di dalam menghadapi era kerja sama dan pelayanan, setiap organisasi membutuhkan karyawan yang cepat, tanggap, dan mandiri sehingga organisasi mempunyai keunikan dan keunggulan melalui sumber daya manusianya. Pemberdayaan oleh organisasi digunakan sebagai sarana untuk memperkuat kapabilitas dan komitmen dari karyawan. Tujuan dari pemberdayaan karyawan adalah juga untuk menambah motivasi dan produktivitas kerja karyawan. Sebab pemberdayaan sangat membantu meningkatkan partisipasi karyawan secara lebih efektif dan membuat segala sesuatu bisa terlaksana dengan baik. Pemberdayaan mengajarkan karyawan bagaimana membuat keputusan dan menerima tanggung jawab terhadap hasil.

Pemberdayan juga menciptakan karyawan yang tidak hanya mem-beo, mem-bebek, hanya menjadi pengikut, cari aman, ABS (Asal Bapak Senang), dan menunggu petunjuk dari atasan. Namun pemberdayaan menjadikan karyawan mandiri, tahu situasi, mawas diri dan ingin melakukan sesuatu lebih baik bukan hanya karena penghargaan dan kompensasinya, tapi merupakan bagian dari aktualisasi diri, kebermaknaan kerja dan tanggung jawab terhadap organisasinya.

Pemberdayaan bukan pula menciptakan karyawan yang membangkang, tidak mau menuruti perintah atasan, serta semau dan seenaknya sendiri. Bukan itu tujuan dan maksudnya. Karyawan tetap taat terhadap peraturan dan sistem yang ada, tetap patuh terhadap tugas yang diembankan dan didelegasikan oleh atasan dan mengerjakan apa yang menjadi deskripsi pekerjaannya. Namun dengan pemberdayaan, karyawan diharapkan menuju suatu situasi, sikap dan prilaku kreatif dan inovatif dengan apa yang dinamakan sebagai kewirausahaan (Entrepreneurship).

 

Entrepreneurship

Belakangan ini banyak dibahas masalah kewirausahaan. Dimana-mana orang membicarakan kewirausahaan, baik itu pemerintah maupun swasta, perorangan maupun kelompok. Bahkan diusulkan bahwa kewirausahaan masuk di dalam kurikulum dari SD sampai SMA. Juga mulai muncul seminar, pelatihan dan sekolah kewirausahaan. Disini kewirausahaan dilihat sebagai sesuatu yang dilakukan saat ini untuk menyiapkan masa depan. Lalu bagaimana jika sudah masuk di dalam suatu sistem atau organisasi, sebagaimana karyawan? Kewirausahaan bisa dilakukan di tengah-tengah sebuah proses, yang dalam hal ini adalah karyawan yang sedang dan tengah bekerja sebagai bagian dari suatu perusahaan. Namun kewirausahaan karyawan di dalam perusahaan disini artinya adalah karyawan yang kreatif dan inovatif dalam bekerja, tidak tergantung pada atasan, mandiri, mempunyai ide dan usulan sehingga kinerjanya efektif dan efisien yang ini amat sangat membantu majunya organisasi. Nah, hal ini bisa dicapai dengan adanya pemberdayaan, sehingga pemberdayaan karyawan bisa dikatakan merupakan penciptaan iklim kreatif dan kooperatif (kewirausahaan) di dalam perusahaan.

Penerapan kewirausahaan di dalam organisasi bisa bermacam-macam bentuknya, baik itu yang kasat mata ataupun tidak. Yang kasat mata semisal adalah perilaku kerjanya yaitu selalu bekerja dengan niat dan usaha untuk melakukan yang terbaik dan melampaui target, hasil kerjanya yaitu menghasilkan produk dan jasa yang baik dan yang sesuai dengan tuntutan kerja dan organisasi sehingga memuaskan konsumen. Bisa juga diwujudkan dengan adanya koperasi karyawan yang sudah banyak dilakukan. Yang tidak kasat mata namun juga penting adalah karyawan mempunyai komitmen organisasi yang tinggi yang ini akan tampak dan dapat diukur dari prilaku dan hasil kerjanya.

Lalu bagaimana dengan pekerjaan tertentu yang karyawan hanya dituntut untuk melakukan apa yang sudah menjadi deskripsi pekerjaannya? Iklim, sikap dan perilaku kerja kewirausahaan tetap bisa dijalankan dan dilakuan oleh karyawan kapan saja, tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi karyawan. Sebab, karena ini sudah sebagai iklim, atmosfer, sikap, dan prilaku maka ujung dari hal ini adalah itu menjadi kebiasaan karyawan di tempat kerja. Pasti tidak mungkin juga setiap situasi kerja, karyawan hanya mengerjakan apa yang menjadi tuntutan pekerjaannya. Mengapa? Karena karyawan adalah manusia, bukan robot. Maka semakin jelaslah bahwa kewirausahaan di dalam organisasi bisa diterapkan oleh karyawan dengan dibantu adanya pemberdayaan.

 

Nicholas Simarmata, S.Psi., M.A.

 

 

 

Related Blog

Leave a CommentYour email address will not be published.