Budaya dalam organisasi selalu dinamis menyesuaikan dengan tuntutan lingkungan (Uha, 2013). Tantangan budaya disini adalah tantangan yang bakal atau akan dihadapi oleh pelaku budaya atau suatu lingkungan budaya (sub budaya, sub kultur) tatkala berkomunikasi atau berinteraksi dengan pelaku budaya atau lingkungan budaya (sub budaya) lain. Dengan mengetahui tantangan budaya maka dapat dipelajari bagaimana menghadapi dan mengantisipasinya agar tantangan itu berubah menjadi peluang bahkan kekuatan (resilient). Tantangan budaya menurut Ndraha (2005) terdapat antar berbagai pihak sebagai berikut.
- Budaya Pribadi
Tantangan budaya antar pribadi dihadapi dalam rangka membentuk semangat tim. Dalam manajemen modern, nilai tim lebih tinggi ketimbang kerja sama semata-mata. Team building didasarkan pada anggapan bahwa: (a) tidak ada orang yang sempurna, (b) setiap orang mempunyai kelemahan, keahlian, dan kelebihan dibandingkan dengan orang lain, (c) kepentingan seseorang dapat “ditukar” dengan orang lain yang kepentingannya berbeda sehingga tercapai kondisi saling menguntungkan, (d) persamaan kepentingan dapat mengikat orang untuk bekerja sama, (e) dalam organisasi, orang saling membutuhkan dan saling melengkapi, (f) kelemahan dan kekuatan dapat dikelola agar tidak ada anggota tim yang menjadi “musuh dalam selimut”, “monohok kawan seiring”, “menggunting dalam lipatan”, “senjata makan tuan”, atau “pagar makan tanaman” karena “bersatu kita teguh, bercerai kita hancur”, dan (g) tim adalah semangat dan synergy di dalam Together Everyone Achieves More (TEAM).
- Kelompok atau Mayarakat
Pembesaran organisasi melalui akuisi, merger, grouping, dan kemitraan. Hal itu diterangkan melalui hipotesis Richard N. Osborn; James G. Hunt dan Lawrence R. Jauch (1980) dan William G. Scott (1985) yang menyatakan bahwa dalam batas tertentu terdapat hubungan korelatif positif antara besaran organisasi dengan efektivitas organisasi. Untuk mengurangi kesengsaraan dan meningkatkan kepuasan kerja maka eksekutif puncak memberikan otonomi, mengelola heterogenitas kultur, mengembangkan sub kultur unit kerja level bisnis, hirarki organisasi diperpendek, hubungan fungsional diperluas, kecerdasan organisasi ditingkatkan, dan desain organisasi “diratakan” (flat).
- Atasan dengan Bawahan
Terdapat perbedaan antara budaya atasan dan budaya bawahan di dalam sebuah organisasi. Atasan itu punya kuasa sementara bawahan biasanya kurang punya kuasa. Perbedaan ini merupakan tantangan bagi manajemen dalam membangun budaya organisasi.
- Organisasi
Tantangan budaya antar-organisasi yang budayanya berlainan dihadapi di kala orang berbicara tentang penggalangan kerja sama atau penyelesaian konflik. Tantangan ini dibahas oleh William Ouchi antara lain teori Z (1985) yang membahas metodologi interaksi budaya manajemen antara organisasi dan pemerintah di Jepang dibandingkan dengan Amerika, dan The M-Form Society (1984) yang membahas team building antar-organisasi yang fungsinya berbeda-beda (pemerintah, perusahaan, bank) agar terjalin hubungn saling kontrol dan supaya yang satu tidak memperalat yang lain.
- Pusat dengan Daerah atau Cabang, Perwakilan
Jika tantangan budaya antar atasan dengan bawahan berkaitan dengan jarak kekuasaan maka tantangan budaya antara pusat dengan daerah atau pusat dengan cabang, dan pabrik dengan toko, terletak pada asumsi bahwa daerah (cabang, toko)-lah yang paling dekat dengan kenyataan, rakyat atau konsumen. Pusat yang paling tahu tentang visi, misi, tujuan, sasaran, strategi, kebijakan, dan manajemen.
- Kultur dengan Subkultur
Contoh yang berhasil di dalam hubungan ini adalah Amerika Serikat. Amerika Serikat terdiri dari berbagai kultur dan setelah melalui perang saudara yang dahsyat maka terbentuk kultur baru dimana kultur lama menjadi subkultur baru di dalam wadah Amerika Serikat (federalisme).
- Negara atau Bangsa
Di seluruh dunia terdapat overlapping dan dominasi antara negara sebagai puncak perkembangan sistem politik dan bangsa sebagai perkembangan sistem sosial budaya. Ada bangsa yang didominasi oleh sistem kenegaraan seperti Uni Soviet dan Yugoslavia dahulu, dan ada juga negara yang didominasi oleh kesadaran kebangsaan. Jarang sekali terdapat single state yang congruent dengan single nation (nation state).
- Kawasan Dunia
Tantangan ini dapat juga disebut tantangan regional atau global dengan muatannya berupa sistem nilai yang berbeda dengan nilai yang selama ini dianut oleh elite Indonesia. Sistem nilai itu dapat dikelompokan menjadi:
- Sistem nilai politik seperti demokrasi, HAM, liberalisme, oposisi, kontrol sosial, kebebasan pers, dan reformasi.
- Sistem nilai ekonomi seperti kapitalisme, pasar bebas, persaingan, keterbukaan, konsumerisme, kepuasan konsumen, dan profesionalisme.
- Sistem nilai sosial seperti perikemanusiaan, keadilan, kedamaian, solidaritas, kebersamaan, keterbukaan, tanggung jawab, dan disiplin sosial.
- Sistem nilai lingkungan seperti kelestarian, kebersihan, ambang batas toleransi alam, dan studi dampak lingkungan.
- Sistem nilai di atas seyogyanya dijadikan topik penelitian tentang tantangan budaya global guna mengantisipasi sedini mungkin peluang masa depan.
Tentu yang dimaksud dengan tantangan disini adalah apa yang perlu dilakukan oleh organisasi baik secara preventif maupun kuratif terkait budaya organisasi dengan mempertimbangkan apa yang ada di dalam organisasi ataupun yang di luar organisasi sehingga organisasi bisa maju, tumbuh, dan berkembang sehingga bisa memberikan dampak yang baik dan positif bagi anggota organiasi dan konsumen.
Oleh:
Nicholas Simarmata, M.A.
Pustaka
Ndraha, T. (2005). Teori Budaya Organisasi. Jakarta: Rienika Cipta.
Uha, I.N. (2013). budaya Organisasi Kepemimpinan dan Kinerja: Proses Terbentuk, Tumbuh Kembang, Dinamika, dan Kinerja Organisasi. Jakarta: Kencana. ISBN 978-602-7985-33-9.





