MEMULAI BUDAYA ORGANISASI

Setiap dimulainya kegiatan dari organisasi adalah menetapkan sejumlah filosofi, aturan, tujuan, dan sistem keorganisasian yang dibangun oleh penggagas, pendiri, dan pemilik organisasi. Filosofi dan lainnya tersebut merupakan asumsi dasar yang dijadikan pedoman perilaku organisasional—budaya. Tradisi, dan cara umum organisasi dalam melakukan segala tindakan, sebagian besar disebabkan oleh apa yang telah dilakukan sebelumnya dan tingkat keberhasilannya diperoleh melalui kerja keras. Hal tersebut mengarahkan kita pada pemikiran bahwa sumber paling akhir dari budaya organisasi adalah pendirinya (Schein, 1983). Pendiri organisasi yang biasanya juga menjadi pemilik akan memengaruhi pola pengelolaan usaha. Ide dan nilai muncul dari pemikiran pendiri dan pemilik. Pendiri organisasi secara tradisional mempunyai dampak utama pada permulaan budaya organisasi. Mereka mempunyai visi mengenai bagaimana seharusnya organisasi beroperasi (Robbins, 1998).

Adalah sesuatu yang sangat sulit untuk digeneralisasikan bagaimana budaya organisasi dimulai. Sebab banyak organisasi yang memiliki jenis kegiatan dan lingkungan yang sama tetapi memiliki budaya yang berbeda. Hal ini disebabkan karena latar belakang sosial budaya pendiri organisasi berbeda dalam filosofi dan visinya. Budaya muncul dari tiga sumber yaitu Schein (1997): (1) keyakinan, nilai dan asumsi dari pendiri organisasi, (2) belajar dari pengalaman yang dilakukan oleh anggota kelompok sebagaimana perkembangan organisasi, dan (3) keyakinan nilai, dan asumsi baru yang dibawa masuk oleh pimpinan dan anggota baru.

Budaya organisasi terbentuk melalui 3 tahapan proses yaitu (Robbins & Judge, 2009): (1) Bermula dari filosofi yang ditetapkan oleh pendiri organisasi seperti tradisi, kepercayaan, dan ideologi; (2) Proses seleksi anggota organisasi untuk mencari kesesuaian antara nilai individu dengan filosofi organisasi; dan (3) Proses sosialisasi sistem nilai organisasi berjalan baik maka akan terbentuk budaya organisasi.

Organisasi tidak terbentuk begitu saja tetapi merupakan proses dimana pendiri memiliki gagasan, visi, ide, dan tujuan. Pendiri dalam hal ini dapat perorangan atau kelompok kecil yang berunding mengenai pola pengelolaan organisasi. Namun di banyak organisasi terkemuka yang sudah mendunia, pola lengelolaan organisasi diawali dari filosofi pendiri. Filosofi pendiri kemudian menjadi dasar visi dan misi organisasi serta sejumlah asumsi yang dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk seperti slogan atau logo organisasi (Poerwanto, 2008). 

Pada organisasi bisnis, proses pembentukan budaya biasanya akan melibatkan beberapa versi seperti pada tahapan berikut ini (Schein, 1997): (1) Untuk organisasi baru, ide berisi dari pendiri seorang diri; (2) Pendiri melibatkan satu orang atau lebih dalam menciptakan kelompok inti yang bersama-sama dengan pendiri membuat visi dan tujuan bersama. Mereka semua percaya bahwa ide yang baik, bisa dikerjakan, memiliki nilai untuk menghadapi resiko, dan invetasi yang berguna bagi waktu, uang, dan energi yang dibutuhkan; (3) Kelompok pendiri memulai bertindak bersama-sama untuk menciptakan organisasi melalui pengumpulan dana, kegiatan nyata, pembentukan organisasi,menentukan lokasi usaha; dan (4) Melibatkan orang dan pihak lain ke dalam organisasi serta cerita sebenarnya dimulai. Jika kelompok pendiri tetap bekerja dan belajar dari pengalaman bersama secara signifikan, hal tersebut secara bertahapakan membangun asumsi tentang kelompoknya, lingkungannya, dan bagaimana mereka bekerja untuk tumbuh dan bertahan.

Pendiri biasanya mempunyai pengaruh yang kuat pada bagaimana mulainya menetapkan kelompok dan cara memecahkan masalah adaptasi dengan lingkungan eksternal serta masalah proses integrasi. Hal tersebut karena mereka memiliki ide yang orisinal, yang secara tipikal adalah hasil pemikirannya, yang didasarkan pada sejarah dan kepribadian serta bagaimana mereka mengisi atau membangun gagasan. Pendiri tidak hanya memiliki kepercayaan diri dan kebulatan tekad yang tinggi tetapi juga memiliki asumsi yang kuat tentang sifat dunia bisnis, peran organisasi, keterkaitan dengan pihak berkepentingan, dan bagaimana memanajemeni waktu dan ruang (Poerwanto, 2008). 

 

Oleh:

Nicholas Simarmata, M.A.

 

Pustaka

Poerwanto. (2008). Budaya Organisasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. ISBN: 978-979-1277-90-7.

 

Robbins, S.P. (1998). Organizational Behavior: Concepts, Controversies, Applications. New York: Prentice-Hall.

 

Robbins, S.P. & Judge, T.A. (2009). Organizational Behavior. New Jersey: Prentice-Hall International Inc.

 

Schein, E.H. (1983). The Role of Founder in Creation of Organizational Culture. Organizational Dynamic. Summer.

 

Schein, E.H. (1997). Organizational Culture and Leadership. Edisi 2. San Francisco: Jossey—Bass Publisher.

Related Blog

Leave a CommentYour email address will not be published.