Budaya organisasi merupakan proses pembelajaran sosial untuk jangka waktu yang panjang. Pembentukan budaya organisasi yang baik adalah merupakan rentetan sejarah dan gambaran mengenai orientasi pengasas atau pemimpin yang terdahulu bagi organisasi. Budaya organisasi yang telah ada itu kemudian diperkuat dan dikukuhkan lagi oleh ketua atau pengurus berikutnya. Ini menjadi struktur budaya organisasi yang amat kental dan tidak mudah untuk diubah atau ditukar. Dalam memupuk dan mengetengahkan budaya organisasi, beberapa penilaian yang perlu dihayati oleh setiap ahlinya ialah: (1) Who’s who, and who matters around here?, (2) Who’s us? Who’s them? How do we treat us and them?, (3) How do we do things around here, and why?, (4) What constitutes a problem, and what do we do when one arises? dan (4) What really matters here, and why?. Melalui konsep budaya organisasi yang sekian lama dipraktekkan dan menjadi tradisi kepada anggota organisasi tersebut kemudian dapat dijadikan panduan dan gambaran yang jelas bagi kemudahan anggota organisasi tersebut untuk berhadapan dengan persoalan (Ernawan, 2011).
Model yang berguna untuk mengamati dan menginterpretasikan budaya organisasi terdiri dari 4 manifestasi umum atau bukti budaya organisasi yaitu hal yang dimiliki bersama (objek), perkataan yang diucapkan bersama (pembicaraan), pekerjaan yang dilakukan bersama (perilaku), dan perasaan yang dirasakan bersama (emosi). Seseorang dapat mulai mengumpulkan informasi budaya di dalam organisasi dengan bertanya, mengamati, membaca, dan merasakan (Sathe, 1983).
Asumsi budaya akan tampak melalui sosialisasi karyawan baru, ketidakserasian sub budaya, dan perilaku manajemen puncak. Berkaitan dengan ketiga situasi ini, misalkan: Seorang karyawan baru yang datang terlambat pada rapat penting akan diceritakan mengenai seseorang yang dipecat karena keterlambatan yang terus-menerus. Konflik antara ahli desain produk yang menekankan pada fungsi produk dan ahli pemasaran yang menuntut produk yang tampil lebih bergaya menunjukkan ketidakserasian nilai sub budaya. Manajemen puncak melalui perilaku yang mereka tunjukkan dan sistem penghargaan dan administratif yang mereka ciptakan akan mendesak perbaikan yang signifikan dalam kualitas produk organisasi (Ernawan, 2011).
Budaya organisasi merupakan proses pembelajaran sosial dalam waktu yang lama sehingga terbentuk dari rentetan sejarah dari pendirinya. Meskipun di dalam proses pembentukannya tidak mudah karena harus melalui benturan dan konflik yang menyertainya. Setelah terbentuk kemudian dikukuhkan oleh generasi berikutnya sehingga menjadi struktur budaya organisasi yang kuat dan kokoh. Budaya organisasi yang telah lama dipraktekkan dan menjadi tradisi kemudian dijadikan panduan dan gambaran bagi anggota organisasi. Agar hal ini bisa tercapai maka perlu menginterpretasikan budaya organisasi dengan cara bertanya, mengamati, membaca, dan merasakan.
Oleh:
Nicholas Simarmata, M.A.
Pustaka
Ernawan, E.R. (2011). Organizational culture: Budaya organisasi dalam perspektif ekonomi dan bisnis. Bandung: Penerbit Alfabeta.
Sathe, V. (1983). Organizational Culture: Some conceptual distinctions and their managerial implications. Division of research. Harvard business school.





