PERAN BUDAYA ORGANISASI TERHADAP PERILAKU ORGANISASI

Angkatan kerja mempunyai implikasi yang penting bagi praktik manajemen. Manajer organisasi modern memerlukan pergeseran filosofi dari memperlakukan semua karyawan secara sama menjadi memahami perbedaan dan menanggapi perbedaan tersebut dengan cara meninggalkan praktik diskriminatif. Era globalisasi adalah dunia tanpa batas yang menuntut kesetiaan dan kebersamaan secara total baik dari aspek budaya, demografis, ras dan bahkan geografis. Sehingga organisasi harus memiliki nilai yang dibangun untuk menyeragamkan pemikiran dan perilaku seluruh anggota organisasi yang tidak hanya berpandangan pada kepentingan lokal tetapi global (Poerwanto, 2008).

Budaya mempunyai kaitan dan peran terhadap berbagai aspek kehidupan organisasi secara menyeluruh. Fungsi utama budaya yaitu untuk adaptasi terhadap lingkungan eksternal dan proses integrasi intenal. Secara spesifik, budaya organisasi memiliki lima peran Schein (1997); (1) Budaya organisasi memberikan rasa memiliki identitas dan kebanggaan bagi karyawan yaitu menciptakan perbedaan yang jelas antara organisasinya dengan yang lain; (2) Budaya organisasi mempermudah terbentuknya komitmen dan pemikiran yang lebih luas daripada kepentingan pribadi seseorang; (3) Budaya organisasi memperkuat standar perilaku organisasi dalam membangun pelayanan superior pada pelanggan; (4) Budaya organisasi menciptakan pola adaptasi; dan (5) Budaya organisasi membangun sistem kontrol organisasi secara menyeluruh.

Fungsi budaya organisasi merupakan kekuatan yang menggerakkan dan mengendalikan perilaku anggotanya dalam berkomunikasi dengan lingkungannya. Pada organisasi yang dikelola dengan baik, setiap karyawan dalam organisasi menganut budaya mereka. Budaya organisasi yang kuat berperan dalam dua hal (Deal & Kennedy, 1982): (1) Mengarahkan perilaku. Karyawan mengerti bagaimana harus bertindak dan apa yang diharapkan dari mereka; dan (2) Budaya organisasi yang kuat memberi karyawan pengertian akan tujuan, dan membuat mereka berpikiran positif terhadap organisasi. Mereka mengerti apa yang ingin dicapai organisasi dan bagaimana cara membantu organisasi mencapai sasaran tersebut. Budaya organisasi berfungsi sebagai perekat yang menyatukan organisasi. Jika organisasi memiliki budaya yang kuat maka organisasi dan karyawannya akan memiliki perilaku yang seiiring dan sejalan.

Budaya organisasi yang dibangun oleh pendiri merupakan jiwa bagi anggotanya. Pendiri secara moral harus memberi keteladanan kepada seluruh stakeholder agar budaya yang dibangun dapat menjadi moral dalam proses keorganisasian. Bagi semua organisasi, apapun bentuk dan jenis kegiatannya harus mampu membangun komunikasi organisasi yang dapat dijadikan basis pemahaman terhadap budaya organisasi. Budaya dalam keorganisasian menjadi dasar dari desain organisasi yang mencakup tujuan, struktur, teknologi, dan pola pengelolaan. Dalam proses keorganisasian, perilaku organisasi yang didasari oleh budaya, berkaitan dengan tingkat produktivitas dan kepuasan kerja karyawan. Produktivitas dan kepuasan kerja mendorong timbulnya rasa memiliki organisasi yang dapat menjadi kontrol bagi perilaku organisasi (Poerwanto, 2008).

 

Oleh:

Nicholas Simarmata, M.A.

 

Pustaka

Deal, T.E. & Kennedy, A.A. (1982). Corporate Culture. Reading, MA: Addison-Wesley.

Poerwanto. (2008). Budaya Perusahaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. ISBN: 978-979-1277-90-7.

Schein, E.H. (1997). Organizational Culture and Leadership. San Francisco: Jossey-Bass Publisher.

Related Blog

Leave a CommentYour email address will not be published.