MEMPENGARUHI & MENGUBAH BUDAYA ORGANISASI

Budaya organisasi sebagai bagian penting dari beroperasinya organisasi, dalam kenyataannya bisa bertahan lama, bisa juga hanya sesaat. Bisa pula bersifat kuat, bisa pula bersifat lemah. Hal itu dikarenakan ada berbagai faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor yang mempengaruhi budaya organisasi yaitu (Ernawan, 2011); (1) Faktor Struktur Sosial merupakan organisasi sosial yang mendasar. Walaupun banyak perbedaan aspek dalam struktur sosial, namun ada 2 dimensi utama penggerak ketika kita ingin menjelaskan perbedaan budaya, yaitu; Pertama adalah tingkat dimana unit dasar individu merupakan lawan dari kelompok dalam masyarakat Barat; Kedua adalah tingkat dimana suatu masyarakat terbagi dalam kelas atau tingkat; (2) Faktor Stratifikasi Sosial yaitu seluruh masyarakat digolongkan ke dalam hierarki dasar yang termasuk kategori sosial atau strata sosial. Strata ini secara khusus didefinisikan dalam karakteristik mendasar seperti latar belakang keluarga, pekerjaan dan pendapatan; (3) Faktor Mobilitas Sosial adalah tingkat dimana individu dapat keluar dari strata yang dimilikinya sejak lahir. Mobilitas sosial sangat beranekaragam artinya dari masyarakat ke masyarakat lainnya; (4) Faktor Kepentingan yaitu stratifikasi suatu masyarakat dari perspektif bisnis adalah suatu kepentingan sepanjang itu mempengaruhi operasi organisasi bisnis; (5) Faktor Bahasa yaitu komponen penting dalam suatu budaya karena dengan bahasa manusia dapat mengeluarkan ide dan dapat berkomunikasi. Melalui bahasa dapat dirumuskan budaya dan pola berpikir, persepsi serta konsep manusia tentang realita idealnya. Bahasa ini dapat diartikan sebagai setiap pengertian perkataan atau non-perkataan dari komunikasi; dan (6) Faktor Pendidikan yaitu memegang peranan kunci dalam masyarakat. Pendidikan formal ini merupakan media atau sarana.

Begitu pula ada hal yang bisa mengubah budaya organisasi. Hal itu berpangkal dari budaya sebagai pola yang menghubungkan semua aspek kehidupan organisasi. Budaya merupakan hasil dari banyak kekuatan berbeda di dalam dan di luar organisasi dan tidak sedikit diantaranya yang merupakan sejarah. Budaya adalah gejala sistem. Masalah sistem memerlukan penyelesaian system. Walaupun hal ini mungkin kelihatannya jelas, namun banyak upaya awal untuk mengubah budaya dilakukan oleh ilmuwan keperilakuan yang cenderung memusatkan perhatian hanya pada aspek manusiawai dari organisasi dan sering mengabaikan struktur, strategi, rancangan sistem, dan pemilihan teknologi. Untuk keluar dari pendekatan faktor tunggal ini maka disarankan agar upaya pengubahan budaya memeriksa kekuatan di bawah ini, dan kemudian memilih kekuatan yang paling cepat untuk dapat dilaksanakan. Sarana yang tersedia untuk mengubah budaya organisasi (Pascale & Athos, 1981): (1) Tujuan superordinat (visi penuntun dan filsafat organisasi), (2) Gaya dan tindakan manajemen, (3) Pengelolaan sumber daya manusia.struktur organisasi, (4) Struktur organisasi, (5) Sistem administratif dan pengendalian, (6) Perencanaan, (7) Informasi dan komunikasi, (8) Strategi, (9) Rancangan dan latar belakang fisik, dan (10) Hubungan eksternal.

Perubahan budaya organisasi harus dilakukan karena adanya perubahan tujuan organisasi yang semakin meningkat dan menantang. Tujuan organisasi ke depan akan lebih fokus pada pelanggan dan hasil. Terdapat 7 langkah yang diperlukan untuk melakukan perubahan budaya yaitu (Uha, 2013): (1) mengamati beberapa kecenderungan lingkungan yang akan mempunyai dampak terbesar pada organisasi di masa depan; (2) mempertimbangkan implikasi dan kecenderungan tersebut; (3) meninjau kembali misi dan menyempurnakannya; (4) meninggalkan hierarki lama dan menciptakan struktur dan sistem manajemen yang fleksibel dan cari yang melepaskan energi orang; (5) menantang asumsi, kebijakan, dan prosedur dan hanya menjaga yang mencerminkan masa depan yang diinginkan; (6) mengkomunikasikan beberapa pesan yang memaksa yang memobilisasi orang sekitar misi, tujuan, dan nilai; dan (7) membubarkan tanggung jawab kepemimpinan terhadap organisasi pada setiap tingkatan.

Organisasi tumbuh dan berkembang secara bertahap. Organisasi dimulai dengan penemuan dan pertumbuhan awal, dilanjutkan dengan pertengahan hidupnya, dan diakhiri dengan kedewasaan dan penurunan. Pada tahap penemuan dan pertumbuhan awal organisasi, mekanisme perubahan yang dapat dilakukan adalah (Uha, 2013): (1) perubahan incremental melalui evolusi umum dan spesifik; (2) perubahan melalui pengertian dari terapi organisasional; dan (3) perubahan melalui peningkatan kombinasi dalam budaya.

Pada tahap pertengahan perkembangan hidupnya, mekanisme perubahan budaya dilakukan dengan (Uha, 2013): (1) perubahan melalui peningkatan secara sistematis dari subcultural terpilih; (2) perubahan terencana melalui proyek pengembangan organisasi dan penciptaan struktur pembelajaran parallel; dan (3) pencairan dan perubahan melalui bujukan teknologi.

Pada tahap kedewasaan dan penurunan organisasi, mekanisme perubahan budaya dilakukan dengan: (1) perubahan dengan memasukan orang dari luar (Uha, 2013); (2) pencairan melalui ledakan skandal dan mitos; (3) perubahan dilakukan dengan berbalik-kembali; (4) perubahan melalui bujukan dengan memaksa; dan (5) penghancuran dan melahirkan kembali.

Manajemen puncak atau agen perubahan budaya organisasi mempunyai banyak sekali ragam alat yang tersedia. Alat ini bergantung pada sifat masalah dan sifat budaya yang ada. Manajer yang peka terhadap budaya dianjurkan untuk memusatkan upaya perubahan awal pada upaya tersebut. Dengan upaya melakukan perubahan budaya organisasi yang telah berlaku dalam organisasi, dinamika organisasi menuntut adanya perubahan budaya (Uha, 2013).

 

Oleh:

Nicholas Simarmata, M.A.

 

Pustaka

Ernawan, E.R. (2011). Organizational Culture: Budaya organisasi dalam perspektif ekonomi dan bisnis. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Harrison, R. & Stokes, H. (1992). Diagnosing Organizational Culture. California, USA: Preiffer & Company.

Hickman, C.R. & Silva, M.A. (1984). Creating Excelent, Managing Corporate Culture Strategy, and Change in The New Age. New York: A Plume Book.

Kotter, J.P & Heskett, J.L. (1992). Corporate Culture and Performance. New York: Free Press.

Pascale, R.T. & Athos, A.G. (1981). The Art of Japanese Management. New York: Random House.

Poerwanto. (1992). Budaya Organisasi dan Pola Adaptasi Pada Organisasi Mini Guesthouse di Kawasan Wisata Jakarta, Yogyakarta dan Bali. Tesis (Tidak dipblikasikan). Universitas Indonesia.

Poerwanto. (2008). Budaya Organisasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. ISBN: 978-979-1277-90-7.

Uha, I.N. (2013). Budaya Organisasi Kepemimpinan dan Kinerja: Proses Terbentuk, Tumbuh Kembang, Dinamika, dan Kinerja Organisasi. Jakarta: Kencana. ISBN 978-602-7985-33-9.

Related Blog

Leave a CommentYour email address will not be published.