Henry R. Towne (1886) presentasi di hadapan American Society of Mechanical Engineers dengan judul “The Engineer as Economist”. Towne ketika itu menegaskan bahwa dalam mengelola organisasi, seorang insinyur juga harus mengerti aspek ekonomi. Frederick Taylor yang kebetulan hadir pada acara tersebut mulai mengembangkan konsep manajemen pada awal tahun 1900-an. Konsepnya dikenal dengan nama scientific management yang dituangkan dalam beberapa buku diantaranya Shop Management (1903) dan buku yang sangat populer dalam bidang studi organisasi dan manajemen yaitu The Principle of Scientific Management (1911).
Scientific management (Taylorism) merupakan faham dengan pendekatan manajemen yang menempatkan manajer sebagai posisi sentral dalam menjalankan kegiatan organisasi. Dalam pendekatan ini, organisasi dikelola secara top-down (sentralistik). Peran manajer dan karyawan dibedakan secara tegas. Tugas dan tanggung jawab manajer adalah membuat desain yang cocok untuk kepentingan produksi dan organisasi, mengubah sistem yang tidak berjalan secara efektif, serta memilih orang yang tepat dan melakukan pengawasan terhadap bawahan untuk memastikan bahwa semua kegiatan berjalan sesuai rencana. Jika desain tersebut telah dirancang secara tepat maka peran dan tugas seorang pekerja adalah mengikuti semua ketentuan yang ada.
Keterlibatan antropolog dalam bidang studi organisasi yang menghasilkan tema penelitian seperti disampaikan oleh Linda Smircich menyebabkan teori dan konsep yang pada mulanya hanya digunakan semata-mata untuk bidang penelitian antropologi budaya tidak bisa dihindarkan yang akhirnya juga dibawa ke bidang studi organisasi. Antropolog juga membawa cara atau metode penelitian antropologi ke dalam bidang studi organisasi. Jika bidang studi organisasi yang pada awalnya cenderung berakibat pada bidang studi psikologi dengan segala pola pikirnya yang bisa dikatakan positivistik, belakangan ini mulai bergeser. Pergeseran ini bukan berarti pendekatan positivistik mulai ditinggalkan, melainkan bidang studi organisasi tidak menolak pendekatan lain sebagai sarana untuk memahami organisasi.
Berdasarkan pemahaman teori displacement of concept seperti awal popularitas istilah budaya organisasi, jika dirunut ke belakang maka salah satunya bermula dari penelitian Hofstede yang dilakukan dua tahap yaitu pada tahun 1968 dan 1972. Meski pada awalnya Hofstede belum secara tegas membahas konsep budaya organisasi, namun hasil penelitiannya menjadi inspirasi dan rujukan utama bagi peneliti berikutnya, baik mereka yang meneliti komparatif manajemen, budaya organisasi, maupun bidang studi lain yang menggunakan budaya sebagai salah satu variabelnya.
Setiap kegiatan manusia adalah proses budaya. Budaya hadir di segala bidang kehidupan: politik, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Budaya tidak hanya hadir tetapi dapat dijadikan “kambing hitam” dan dapat direkayasa. Jika penguasa ingin mempertahankan status quo serta menolak nilai baru atau nilai dari luar yang jika digunakan bisa merugikan kepentingannya maka pemimpin tersebut bisa menolak dengan alasan nilai tersebut tidak sesuai dengan budaya bangsa. Jika aturan program atau perintah tidak terlaksana dengan baik atau gagal maka yang dijadikan “kambing hitam” adalah budaya yaitu tidak didukung oleh budaya masyarakat lokal.
Isu mengenai budaya organisasi diantaranya: (1) Dalam sistem kurikulum terdapat sejumlah bahan ajaran atau mata kurikulum yang sukar dibedakan satu sama lain seperti: Teori Organisasi, Budaya Organisasi, Perilaku Organisasi, Manajemen Sumber Daya Manusia, Manajemen Personalia, Psikologi Industri, Evaluasi Kinerja, dan Perencanaan SDM. Untuk menentukan posisi budaya organisasi di kalangan masyarakat ilmiah diperlukan diskusi dan kesepakatan ilmiah antar ahli disiplin yang bersangkutan agar definisi, perbedaan, dan hubungan antar disiplin dapat diklarifikasi dan dihormati bersama; (2) Tentang konsep budaya organisasi dihubungkan dengan mata ajaran lain seperti Budaya Politik, Antropologi Budaya, Bisnis Internasional. Budaya organisasi dapat diajarkan sebagai bahan dan cara dalam paket (a) pembinaan, (b) penyuluhan, (c) pembimbingan (konseling), (d) pelatihan, dan (e) pengajaran. Diperlukan penelitian dan diskusi intensif untuk mendefinisikan paket dan metode pengajaran dari paket tersebut; (3) Tentang posisi budaya organisasi di dalam proses organisasi. Budaya organisasi dipandang sebagai input bagi stakeholder atau sebagai output bagi organisasi; (4) Budaya organisasi dipandang sebagai salah satu konstruksi asumsi sepanjang perbatasan antar berbagai disiplin atau antara Antropologi dengan Teori Organisasi, dalam bentuk hubungan yang linier.
Sistem budaya suatu masyarakat besar perannya dalam suatu bisnis (organisasi). Kinerja bisnis yang sukses memerlukan “cross culture literacy”. Maksudnya adalah bagaimana memahami dan mengatasi perbedaan budaya antar dan dalam bangsa. Budaya dapat mempengaruhi praktik bisnis. Adanya hubungan nyata antara budaya dan biaya yang ditimbulkan dalam praktik bisnis pada suatu bangsa yang menyebabkan faktor budaya ini dapat membantu organisasi mencapai keunggulan kompetitif dalam perekonomian atau bisnis. Tuntutan dari gerakan yang terus mengarah ke pasar global dan perdagangan lintas perbatasan yang semakin berkembang menyebabkan terbentuknya berbagai kemajuan teknologi yang mengagumkan di bidang komunikasi dan transportasi sehingga kebudayaan dunia semakin berinteraksi satu sama lain.
Faktor budaya ini dapat juga menaikkan biaya atau kegagalan dalam bekerja sama. Sebagai contoh: (1) Beberapa ahli berpendapat bahwa faktor budaya di Jepang membantu beberapa organisasi mencapai keunggulan kompetitif biaya rendah dalam bisnisnya; (2) Beberapa organisasi di Inggris mengalami kesulitan dalam hal kerja sama antara pihak manajemen dan pekerja. Hal ini disebabkan konflik antar kelas dalam sejarah Inggris. Seringnya konflik ini mencerminkan tingginya tingkat perselisihan industri sehingga akan meningkatkan biaya secara relatif dibandingkan dengan Swiss, Norwegia, Jerman atau Jepang dimana latar belakang konflik kelas dapat dicegah; (3) Kegagalan dalam usaha joint venture biasanya bukan karena kekurangan uang atau teknologi melainkan karena perbedaan budaya yang tidak dimengerti (kesalahpahaman) satu sama lainnya terhadap nilai-nilai orang, perusahaan atau bangsa.
Disarikan dari:
Ernawan, E.R. (2011). Organizational Culture: Budaya Organisasi Dalam Perspektif Ekonomi Dan Bisnis. Bandung: Penerbit Alfabeta.
Oleh:
Nicholas Simarmata, M.A.





