KOMUNIKASI BUDAYA ORGANISASI

Media komunikasi merupakan salah satu proses dalam model komunikasi yang sangat diperlukan dalam mengembangkan budaya organisasi. Dalam pengembangan budaya organisasi membutuhkan media komunikasi yang digunakan sebagai saluran dalam organisasi. Dalam praktiknya, budaya organisasi merupakan sumber inspirasi bagi anggota dalam bekerja karena nilai budaya organisasi itu perlu diterjemahkan secara kreatif ke dalam sikap maupun tindakan anggota saat bekerja (Siregar & Pasaribu, 2000). Selanjutnya jelaskan melalui proses tata nilai tersebut, sekaligus tumbuh tantangan berkesinambungan dalam diri anggota bahwa hanya apabila memiliki sikap serta tindakan yang sesuai dengan budaya organisasi maka maka setiap anggota akan memperoleh manfaat yang mendukung karirnya (Uha, 2013).

Budaya organisasi yang dalam proses menjalankan pekerjaannya ditempatkan sebagai sumber inspirasi, perlu diterjemahkan secara kreatif dalam sikap maupun tindakan yang nyata dalam mencapai tujuan organisasi. Tetapi dalam pengertian sikap dan tindakan yang mencerminkan posisinya sebagai anggota organisasi. Sikap dan tindakannya sebagai anggota organisasi akan dilihat sebagai cerminan budaya organisasi. Jika antara nilai yang dimiliki dan nilai budaya organisasi jauh berbeda maka sulit bagi anggota organisasi untuk menerima seketika nilai budaya organisasi untuk menjadi miliknya. Akan lebih mudah bagi anggota organisasi menerima nilai budaya organisasi sebagai nilai baru, kalau persamaan diantara kedua nilai itu lebih menonjol. Itulah sebabnya dikatakan budaya organisasi tidak mungkin ditanamkan seketika. Diperlukan proses komunikasi yang panjang dan terus-menerus disertai kesabaran sebelum budaya organisasi itu betul-betul menjadi milik anggota organisasi (Uha, 2013).

Budaya organisasi itu terbentuk dan dikembangkan sesuai dengan dinamika dan perkembangan suatu organisasi. Beberapa unsur budaya organisasi terbentuk banyak ditentukan oleh beberapa hal yaitu (Uha, 2013) (1) lingkungan usaha adalah lingkungan di tempat organisasi itu beroperasi akan menentukan apa yang akan dikerjakan oleh organisasi tersebut untuk mencapai keberhasilannya; (2) nilai adalah konsep dasar dan keyakinan organisasi, (3) panutan atau keteladanan orang yang menjadi panutan atau keteladanan karyawan lainnya karena keberhasilannya, (4) upacara (ritus dan ritual) adalah acara rutin yang diselenggarakan oleh organisasi dalam rangka memberikan penghargaan bagi karyawan, dan (5) network adalah jaringan informasi informal di dalam organisasi yang dapat menjadi sarana penyebaran nilai budaya organisasi.

Dalam upaya pengembangan budaya organisasi dilakukan proses penyesuaian yang dikenal dengan sosialisasi yaitu proses yang mengadaptasi karyawan kepada budaya organisasi. Upaya untuk mengkomunikasikan budaya organisasi pada tahap perkembangan dimaksudkan agar langkah organisasi di tengah kondisi yang ada didukung oleh anggota organisasi melalui sikap serta tindakan yang sesuai dengan tujuan organisasi. Dalam sikap dan tindakan itulah tercermin nilai yang merupakan implementasi budaya organisasi. Pada saat organisasi baru berdiri, penanaman nilai sebagai implementasi budaya organisasi merupakan suatu keharusan. Organisasi yang baru berdiri dijalankan oleh sejumlah anggota yang mungkin belum memiliki kesamaan persepsi tentang tujuan organisasi, cara mencapai tujuan, dan bagaimana hubungan kerja dijalankan. Untuk kondisi semacam ini, penanaman budaya organisasi perlu dilakukan secara intensif. Misalnya lewat latihan, pertemuan tatap muka, penerbitan buku atau manual (Uha, 2013).

Dalam mengkomunikasikan budaya organisasi diperlukan media yang sesuai dengan organisasi yang bersangkutan. Media organisasi secara lebih fleksibel dapat membantu pihak manajer organisasi untuk menanamkan, memelihara, dan memperkenalkan perubahan yang berkaitan dengan budaya organisasi. Pemilihan media budaya yang tetap dapat difungsikan untuk mengkomunikasikan budaya organisasi dalam cara yang lebih tepat dan pada kesempatan yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan lingkungan organisasi. Fleksibilitas media organisasi dalam mengkomunikasikan budaya organisasi dapat dilihat pada adanya keleluasaan menggunakan format penyajian informasi budaya. Format tulisan bisa dipilih, misalnya tulisan yang bercerita, tulisan berupa anekdot atau dalam format artikel opini. Setiap tulisan tetap dijaga supaya mengandung sejumlah aspek budaya organisasi. Keragaman dan fleksibilitas format penyajian itulah yang menjadikan media organisasi memiliki nilai lebih dalam mengkomunikasikan budaya organisasi (Uha, 2013).

Budaya organisasi itu juga tidak lagi diterima formatnya sebagai indoktrinasi melainkan dikemas sebagai fleksibel dalam pelbagai format yang sesuai. Karena disajikan dalam pelbagai format maka budaya organisasi dapat dikomunikasikan berulang kali tanpa menimbulkan kejenuhan. Perioditas terbit media organisasi memungkinkan aspek budaya organisasi yang dikomunikasikan dapat dipilih sesuai kondisi organisasi saat itu. Hal ini sesuai dengan karakter isi media cetak. Informasi yang disampaikan haruslah aktual yaitu berkaitan dengan persoalan yang sedang menjadi perhatian pembaca. Jadi kalau dirasa perlu mengkomunikasikan budaya organisasi untuk menyegarkan kembali ingatan anggota organisasi atas nilai yang seharusnya dimiliki setelah melihat bahwa emosi terhadap nilai itu sedang berlangsung maka media organisasi dapat difungsikan untuk tujuan tersebut. Selain itu juga, media konvensional yang digunakan untuk mengkomunikasikan budaya organisasi tetap diperlukan (Uha, 2013).

Budaya organisasi dapat dikomunikasikan lewat berbagai media (Siregar & Pasaribu, 2000). Nilai budaya organisasi jika disampaikan tertulis kemungkinan nilai tersebut akan dikenal, dibaca, dipelajari sehingga akan tinggal lebih lama di benak anggota organisasi, termasuk kelompok masyarakat binaan. Lewat tulisan, pembaca dimungkinkan menyerap informasi lebih menyeluruh. Ada kesempatan bagi pembaca untuk mempertimbangkan secara kritis, apa makna informasi yang sedang dibaca. Proses semacam ini menyebabkan penghayatan anggota atas makna informasi tersebut secara lebih mendalam. Media komunikasi budaya organisasi diperlukan sesuai dengan kebutuhan, juga memerlukan atas upaya pemahaman dan kesabaran atas makna budaya organisasi. Kendala pokok yang muncul ketika menggunakan media tersebut sesungguhnya bukan terletak apakah budaya organisasi dikomunikasikan secara lisan atau tertulis, melainkan pada cara penyampaian yang pada dasarnya bersifat instruksional dan formal lazim diterapkan pada pertemuan tatap muka, seperti rapat dan latihan. Yang penting diperhatikan dalam upaya mengomunikasikan budaya organisasi adalah bagaimana mengkomunikasikan budaya organisasi itu secara efektif, apa saja yang perlu dikomunikasikan, dan kapan sebaiknya budaya organisasi itu dikomunikasikan (Uha, 2013).

Oleh karena itu, dengan memiliki dan memilih media komunikasi yang tepat dalam mengkomunikasikan budaya organisasi maka hal itu akan sangat mendukung tersampaikannya budaya organisasi dengan efektif dan efisien. Sehingga nantinya mampu ditangkap dan dilaksanakan oleh anggota organisasi. Hal ini akan memperkuat budaya organisasi sekaligus membantu organisasi tersebut menjadi tumbuh dan berkembang serta bisa berkontribusi yang positif kepada konsumen.

 

Oleh:

Nicholas Simarmata, M.A.

 

PUSTAKA

Siregar, A. & Pasaribu, R. (2000). Bagaimana mengelola media korporasi organisasi. Yogyakarta: Kanisius.

 

Uha, I.N. (2013). budaya Organisasi Kepemimpinan dan Kinerja: Proses Terbentuk, Tumbuh Kembang, Dinamika, dan Kinerja Organisasi. Jakarta: Kencana. ISBN 978-602-7985-33-9.

Related Blog

Leave a CommentYour email address will not be published.