MEMPERKUAT BUDAYA ORGANISASI

Tentu sudah menjadi perhatian bersama bagi semua anggota organisasi bahwa memiliki budaya organisasi yang kuat merupakan hal yang ingin dituju dan dicapai. Sebab dengan memiliki budaya organisasi yang kuat maka hal ini bisa membawa dan menjadikan organisasi tumbuh dan berkembang sehingga bisa berguna bagi konsumen dan berkolaborasi dengan organisasi lain. Berikut hal-hal yang terkait dengan proses memperkuat budaya organisasi.

Budaya akan membangun karakteristik serta membangun kepercayaan organisasi. Hickman & Silva (1984) mengemukakan bahwa terdapat tiga langkah dalam mendorong budaya yang sukses, yaitu komitmen, kompeten, dan konsistensi, atau 3K. Komitmen adalah perjanjian karyawan terhadap eksistensi organisasi. Kompetensi merupakan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas dalam rangka tujuan-tujuan organisasi, dan konsistensi merupakan kemantapan untuk secara terus menerus berpegang pada komitmen dan kemampuannya sebagai karyawan yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan organisasi.

Purwanto (1992) menemukan bahwa budaya yang kuat dibangun oleh 4K yaitu komitmen, kemampuan, kepaduan, dan konsistensi. Komitmen untuk melakukan yang terbaik bagi organisasi perlu didukung oleh kemampuan individual baik keahlian teknis, psikologis maupun sosiologis untuk memadukan diri sebagai bagian dari kehidupan organisasi secara menyeluruh. Kondisi tersebut harus dilaksanakan secara konsisten terhadap apa yang telah disepakati bersama. Keempat K pembentuk budaya yang kuat tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Membangun budaya yang kuat memerlukan pemimpin yang kuat yang memiliki visi dan kepribadian yang kuat pula. Pendiri adalah orang yang membangun visi, misi, filosofi serta tujuan utama organisasi. Pada saat itu pula dimulainya perilaku organisasi yang dimotori oleh pendiri dan tim pimpinan puncak lain. Gerakan pertama pada saat dimulainya operasi adalah memberi teladan pada bawahan dan mengantisipasi kegiatan lingkungan eksternal. Pemimpin mempunyai pengaruh dalam menanamkan nilai yang telah dibangun. Pemimpin harus memberi contoh bagaimana bawahan melaksanakan tugas secara benar dan bertanggung jawab. Desain organisasi—struktur, sistem balas jasa, pola komunikasi, merupakan media dari pemimpin dalam mengarahkan dan mengontrol perilaku karyawan. Hal lain perilaku individual pemimpin dalam perilaku sehari-hari baik dalam tugas organisasi maupun di luar tugas dapat menjadi teladan—kesederhanaan dan kepribadian yang bersahaja (Poerwanto, 2008).

Budaya yang kuat merupakan pengungkit yang kuat untuk mengarahkan perilaku, dan membantu karyawan untuk bekerja dengan lebih baik, khususnya dengan dua cara yaitu dengan sistem peraturan informal yang mengarahkan bagaimana orang harus memanfaatkan sebagian besar waktunya dan memotivasi orang supaya cenderung bekerja lebih keras lagi dengan menyediakan struktur, standar dan suatu sistem nilai. Budaya yang kuat juga memungkinkan karyawan untuk merasa lebih baik tentang apa yang mereka lakukan sehingga mereka cenderung bekerja lebih keras (Harrison & Stokes, 1992).

Budaya yang kuat adalah budaya yang bisa menciptakan suatu ikatan antara organisasi dan karyawannya dan bisa mengilhami tingkatan produktivitas yang berbeda dari organisasi lainnya. Unsur yang dapat membentuk budaya yang kuat yaitu (Kotter & Heskett, 1992): (1) Lingkungan usaha. Lingkungan dimana suatu organisasi beroperasi menentukan apa yang harus dilakukannya agar berhasil; (2) Nilai. Nilai merupakan konsep dan anggapan dasar suatu organisasi yang membentuk inti budaya organisasi. Organisasi dengan budaya yang kuat biasanya memiliki sistem nilai yang kaya dan kompleks, dan tidak mentolerir penyimpangan dari standar organisasi; (3) Pahlawan. Organisasi dengan budaya yang kuat biasanya memiliki banyak “pahlawan”; (4) Upacara dan Ritual. Organisasi berusaha menciptakan komunikasi informal, untuk menciptakan kebersamaan, dengan mengadakan acara-acara pada saat-saat tertentu; (5) Jaringan Budaya. Untuk membentuk budaya yang kuat, organisasi terlebih dahulu harus mengenali jenis budaya yang dimiliki organisasi, dan kemampuan dari manajemen puncak untuk membentuk budaya sesuai dengan kebutuhan pasar.

Keuntungan bila organisasi memiliki budaya yang kuat yakni (Ernawan, 2011): (1) Budaya organisasi sangat menentukan etika kerja. Caranya yaitu organisasi memberi hadiah kepada karyawan yang tidak pernah terlambat sampai setahun penuh hari kerja. Dari budaya ini muncullah perilaku dan mental sikap disiplin; (2) Budaya organisasi memberi arah pengembangan bisnis. Adanya evaluasi terhadap visi, misi, struktur, maka budaya organisasi mendukung terhadap kejelasan arah pengembangan bisnis; (3) Budaya organisasi mampu meningkatkan produktivitas dan kreativitas. Budaya yang dinamis dan kreatif memberikan jaminan tumbuhnya kreativitas pada semua level sehingga karyawannya tidak akan terjebak dalam aktivitas rutin; (4) Budaya organisasi mengembangkan kualitas barang dan jasa. Bila ada komitmen dan sistem nilai maka gerak organisasi dalam menekankan masalah mutu akan terjaga baik; (5) Budaya organisasi memotivasi pegawai mencapai prestasi tinggi. Pertumbuhan dan perkembangan organisasi menjadi tanggung jawab bersama.

 

Oleh:

Nicholas Simarmata, M.A.

 

Pustaka

Ernawan, E.R. (2011). Organizational culture: Budaya organisasi dalam perspektif ekonomi dan bisnis. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Harrison, R. & Stokes, H. (1992). Diagnosing Organizational Culture. California, USA: Preiffer & Company.

Hickman, C.R. & Silva, M.A. (1984). Creating Excelent, Managing Corporate Culture Strategy, and Change in The New Age. New York: A Plume Book.

Kotter, J.P & Heskett, J.L. (1992). Corporate Culture and Performance. New York: Free Press.

Pascale, R.T. & Athos, A.G. (1981). The Art of Japanese Management. New York: Random House.

Poerwanto. (1992). Budaya Organisasi dan Pola Adaptasi Pada Organisasi Mini Guesthouse di Kawasan Wisata Jakarta, Yogyakarta dan Bali. Tesis (Tidak dipblikasikan). Universitas Indonesia.

Poerwanto. (2008). Budaya Organisasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. ISBN: 978-979-1277-90-7.

Uha, I.N. (2013). Budaya Organisasi Kepemimpinan dan Kinerja: Proses Terbentuk, Tumbuh Kembang, Dinamika, dan Kinerja Organisasi. Jakarta: Kencana. ISBN 978-602-7985-33-9.

Related Blog

Leave a CommentYour email address will not be published.