PENGARUH BUDAYA LUAR

Budaya eksternal mempengaruhi proses terbentuk, berkembang dan dinamika budaya organisasi. Pendekatan rancang bangun budaya organisasi merupakan pendekatan merancang bangun struktur organisasi yang mengintegrasikan antara jumlah jenjang dalam organisasi dengan penempatan karyawan yang sesuai tingkat kompetensinya pada posisi yang diemban dan dalam jumlah yang tepat serta pengaturan tata cara pola hubungan individu maupun unit kerja secara vertikal maupun lateral yang luas, lancar, dan tepat.

Organisasi memerlukan tiga unsur agar mampu memenangkan persaingan yaitu: struktur, SDM, dan sistem pengaturan kerja. Ketiga unsur tersebut harus tertata rapi. Hasil akhir penerapan rancang bangun organisasi adalah terciptanya kepastian dan kejelasan atas ketiga unsur tersebut dan sesuai keadaan yang dihadapi. Struktur tugas dan tanggung jawab setiap posisi harus jelas, tidak ada duplikasi pekerjaan. SDM dengan tingkat kompetensi (kompleksitas pengetahuan dan keahlian) yang dibutuhkan harus jelas, sesuai dan sepadan dengan tuntunan kompleksitas jabatannya. Sistem dan prosedur pengaturan hubungan kerja (aturan main) yang tertata dengan jelas.

Tujuan penerapan rancang bangun organisasi agar organisasi dapat mengorganisasikan SDM secara lebih baik untuk memenuhi tujuan jangka panjang. Tugas dan tanggung jawab serta posisi diatur lebih pasti dan jelas sesuai tingkat kompetensi dan ruang lingkup tugas anggota tim. Sistem pengaturan kerjanya pun agar lebih bersifat pasti dan jelas.

Hasil kerja setiap personel dalam proses kerja yang diperlukan akan lebih mudah diidentifikasi jumlah, mutu, waktu, dan sumber dayanya (QQT/R-quantity, quality, time, and resources). Melalui upaya internalisasi, konsep rancang bangun organisasi dapat semakin memperkuat usaha pencapaian visi. Penerapan konsep rancang bangun organisasi merupakan upaya untuk memperkuat organisasi dalam menghadapi dinamika persaingan yang semakin ketat.

Rancang bangun organisasi menekankan pada aspek struktur organisasi, sumber daya manusia, dan sistem pengaturan kerja. Pemikiran dan perencanaan aspek pengaturan sisi secara lateral yang diselaraskan dengan besarnya organisasi yang akan dicapai, dapat ditentukan dengan pasti dan jelas berapa jumlah SDM dan kualifikasi yang diperlukan untuk setiap posisi. Melalui analisis yang mendalam maka dapat ditentukan kualifikasi anggota (individu) sesuai dengan tuntutan dari situasi yang akan dimasuki.

Hal itu menunjukkan betapa penting “pola tim kerja tiga tingkat” (three stratum team working). Inti sarinya yaitu apabila terjadi kerancuan antara atasan dan bawahan langsung maka atasan lebih tinggi dapat memberi keputusan secara efektif dan efesien. Atasan tersebut paling tidak harus memiliki tingkat kompetensi dua jenjang di atas anak buah bawahannya.

Rancang bangun organisasi berdasarkan konsep three stratum team working tersebut dapat benar-benar efektif dan efisien apabila organisasi dapat menempatkan SDM dalam setiap posisi yang diperlukan dengan tingkat kompetensi individual yang sepadan dengan tuntutan kompleksitas posisi masing-masing.

Penerapan pola pengaturan aspek vertikal dan lateral tersebut secara konsisten dan konsekuen akan menghasilkan sasaran kejelasan dalam organisasi bagi semua pihak dapat terlaksana dengan baik di lapangan. Unsur kepercayaan, kejelasan, dan menghindari duplikasi dari masing-masing individu dalam struktur organisasi tersebut akan dapat terjaga dan terpelihara dengan baik.

 

Disarikan dari:

Uha, I.N. (2013). Budaya Organisasi Kepemimpinan dan Kinerja: Proses Terbentuk, Tumbuh Kembang, Dinamika, dan Kinerja Organisasi. Jakarta: Kencana. ISBN 978-602-7985-33-9.

 

Oleh:

Nicholas Simarmata, M.A.

Related Blog

Leave a CommentYour email address will not be published.