PERAN BUDAYA MASYARAKAT TERHADAP BUDAYA ORGANISASI

Budaya masyarakat mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap budaya organisasi di Indonesia. Ada dua sosok budaya yang dapat dijadikan model sosok budaya di Indonesia. Sosok budaya pertama adalah sosok budaya masyarakat kerajaan Nusantara yang disebut sosok budaya feodal aristokratis dan yang kedua adalah sosok budaya paternalistik yang berkembang di masyarakat pertanian tradisional yang tidak sempat atau tidak memerlukan sistem kekuasaan kerajaan. Tata krama di organisasi yang ada di Indonesia memiliki kecenderungan tidak rasional yang mewakili budaya feodal aristokratis sedangkan “budaya mohon petunjuk” mewakili budaya paternalistik (Kayam, 1996). Ada sosok budaya yang ketiga yaitu sosok budaya kolonial. Sosok budaya ini merupakan kelanjutan dua sosok budaya terdahulu yang dilaksanakan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Budaya ini sesungguhnya merupakan akomodasi dari sosok budaya feodal aristokratis dan sosok budaya paternalistik yang sudah lama hadir di Indonesia (Kirana, 1997).

Ada tiga sudut pandang mengenai budaya yaitu (Uha, 2013): (1) Budaya merupakan produk konteks pasar di tempat organisasi operasi dan peraturan yang menekan; (2) Budaya merupakan produk struktur dan fungsi yang ada dalam organisasi. Misalnya organisasi yang tersentralisasi berbeda dengan organisasi yang terdesentralisasi; dan (3) Budaya merupakan produk sikap orang dalam pekerjaan mereka. Hal ini berarti produk perjanjian psikologis antara individu dengan organisasi.

Budaya menuntut individu untuk berperilaku dan memberi petunjuk pada mereka mengenai apa saja yang harus diikuti dan dipelajari. Kondisi tersebut juga berlaku dalam suatu organisasi. Bagaimana karyawan berperilaku dan apa yang seharusnya mereka lakukan banyak dipengaruhi oleh budaya yang dianut oleh organisasi tersebut atau disebut budaya organisasi (Ernawan, 2011). Budaya sebagai seperangkat nilai, norma, persepsi, dan pola perilaku yang diciptakan atau dikembangkan dalam organisasi untuk mengatasi masalah, baik masalah mengenai adaptasi secara eksternal maupun masalah integrasi secara internal (Hood & Koberg, 1991).

Budaya dapat mempengaruhi kinerja dan perilaku organisasi. Pengaruh budaya terhadap organisasi dapat dibedakan atas 3 aspek yaitu (Kilmannt & Serpa, 1986); (1) Pengaruh mengarahkan yaitu budaya akan menggerakkan organisasi mengikuti suatu arah/tujuan tertentu. Budaya akan mempengaruhi perilaku dalam pencapaian tujuan organisasi; (2) Pengaruh merambat yaitu derajat dimana budaya sudah meresap dan menjadikan wawasan bersama diantara anggota organisasi; dan (3) Pengaruh menguatkan yaitu derajat dimana budaya sudah mengakar kuat pada setiap anggota organisasi. Budaya dilaksanakan tanpa adanya paksaan/arahan.

Budaya adalah sistem pembagian nilai dan kepercayaan yang berinteraksi dengan orang dalam organisasi, struktur organisasi, dan sistem kontrol yang menghasilkan norma perilaku (Uha, 2013). Maka budaya mempengaruhi sebagian besar aspek kehidupan organisasi seperti bagaimana keputusan dibuat, siapa yang membuatnya, bagaimana imbalan dibagikan, bagaimana orang diperlakukan, dan bagaimana organisasi memberi respon kepada lingkungannya (Hofstede, 1991).

Dari apa yang sudah disampaikan diatas maka bisa ditarik kesimpulan bahwa budaya di masyarakat mempunyai peran dan kontribusi terhadap adanya budaya organisasi. Hal ini dikarenakan budaya yang ada di organisasi dibentuk oleh anggota organisasi yang notabene adalah berasal dari suatu masyarakat yang memiliki budaya tertentu. Budaya di masyarakat inilah yang memberi warna adanya dan terbentuknya budaya di organasisai. Sehingga antara masyarakat dan organisasi ada konektivitas. Bukannya tidak saling terhubung atau berdiri sendiri-sendiri secara terpisah.

 

Oleh:

Nicholas Simarmata, M.A.

 

PUSTAKA

Ernawan, E.R. (2011). Organizational culture: Budaya organisasi dalam perspektif ekonomi dan bisnis. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Hofstede, G. (1991). Culture and Organization: Software of the Mind Intercultural Cooperation and its Important for Survival. Harper Collins Publisher.

Hood, J.N. & Koberg, C. (1991). Accounting Firm Culture and Creativity Among Accountant. Accounting Horizon. September. Halaman 12-19.

Kayam, U. (1996). Kebudayaan dan Budaya Perusahaan. Manajemen Usahawan Indonesia. No. 07. Tahun XXV. Juli. Halaman 8-10.

Killmannt, S.M.J. & Serpa, R. (1986). Issues in Understanding and Changing Culture. California Management Review. Volume 28. Nomor 2.

Kirana, A. (1997). Etika manajemen. Yogyakarta: Andi.

Uha, I.N. (2013). Budaya Organisasi Kepemimpinan Dan Kinerja: Proses Terbentuk, Tumbuh Kembang, Dinamika Dan Kinerja Organisasi. Jakarta: Penerbit Kencana. ISBN: 978-602-7985-33-9.

Related Blog

Leave a CommentYour email address will not be published.