`An investment in knowledge always pays the best interest.
-Benjamin Franklin (1706-1790)
Pengertian Pengetahuan
Bagi saya, sangat tepat dengan apa yang dikatakan oleh Benjamin Franklin bahwa dengan pengetahuan maka kita bisa melakukan dan memberikan yang terbaik. Pengetahuan itu sendiri bermakna segala sesuatu yang diketahui; kepandaian; segala sesuatu yang diketahui berkenaan dengan hal (misalnya: mata pelajaran) (Kamus Bahasa Indonesia, 2008). Definisi tradisional melihat Pengetahuan sebagai kepercayaan yang sudah dibuktikan kebenarannya (Nonaka & Teece, 2001). Pengetahuan dianggap sebagai informasi yang sudah ditetapkan keabsahannya melalui test of proof sehingga dapat dibedakan antara opini, spekulasi, keyakinan, atau tipe lain dari informasi yang tak terbukti. Dalam teori tentang Pengetahuan yang berkembang di dunia Barat, yang biasa disebut epistemologi atau truthfulness merupakan atribut yang esensial dari Pengetahuan. Sebenarnya pendapat ini bersifat statis dan absolut. Dalam artian, pendapat ini kurang mampu dalam mengakomodir dimensi dinamis, humanitis, dan kerelatifan dari Pengetahuan itu sendiri (Pasaribu, 2013).
Pengetahuan bersifat dinamis karena berguna saat berinteraksi sosial antar individu di dalam organisasi. Pengetahuan bersifat spesifik kontekstual karena Pengetahuan bergantung pada tempat dan waktu yang khusus (Pasaribu, 2013). Jika tanpa konsep yang jelas maka Pengetahuan itu tidak berbeda dengan informasi. Maksudnya adalah Pengetahuan tidak sekedar sebuah informasi. Artinya di dalam Pengetahuan terkandung tanggung jawab moral bagi orang yang empunya untuk melaksanakan dan menindaklanjuti Pengetahuan yang dia miliki agar bisa berguna untuk dirinya dan orang lain. Dengan adanya hubungan yang erat antara Pengetahuan dan konteks maka tidak ada Pengetahuan yang bersifat absolut karena semua Pengetahuan bersifat relatif. Penyebab hal ini yaitu; (1) Pengetahuan baru punya makna dan arti jika ditempatkan pada konteksnya. (2) Pengetahuan juga bersifat humanistis karena Pengetahuan mempunyai relasi dengan komitmen dan keyakinan yang tertanam di dalam sistem nilai individu. Informasi menjadi Pengetahuan jika diinterpretasikan oleh individu (Schoenhoff, 1993) serta diberi konteks dan berjangkar di dalam keyakinan dan komunitas atau jaringan dari individu. Pengetahuan adalah sesuatu yang relasional karena Pengetahuan berhubungan dengan kebenaran, kebaikan, dan keindahan sebagaimana diamati oleh manusia (Pasaribu, 2013).
Definisi Pengetahuan itu suatu proses manusiawi (humanis) yang dinamis untuk melakukan pembenaran atau semacam konfirmasi dari keyakinan personal agar sesuai dengan kebenaran (Nonaka & Teece, 2001). Definisi ini bisa terwujud atau menjadi nyata jika kita memahami perbedaan antara data, informasi, ide, Pengetahuan dan kebijaksanaan (Nonaka & Takeuchi, 1995). Dalam hal ini memang dibutuhkan usaha yang lebih untuk memahami dan membedakan sehingga bisa teraplikasikan pada tataran konkret.
Dari Data Menjadi Pengetahuan
Apa sumber atau asal dari pengetahuan itu? Menurut saya, hal itu bisa berasal dari data. Data merupakan kumpulan simbol (Tiwana, 2000) atau sejumlah fakta atau statistik dalam bentuk yang netral (Benton & Giovagnoli, 2006). Jika data kemudian dikumpulkan untuk dipelajari manfaatnya melalui proses dikontekstualisasikan, dikategorikan, dikalkulasikan, dikoreksi, dan diringkas maka data itu berubah menjadi informasi (Davenport & Prusak, 1998). Informasi adalah kumpulan data yang sudah menjalani proses interpretasi (Benton & Giovagnoli, 2006).
Ide menjadi Pengetahuan yang sangat berguna kalau ia dibingkai dan diaplikasikan untuk sebuah kebutuhan. Informasi tadi berubah menjadi Pengetahuan kalau dia memiliki kemampuan untuk mengubah sesuatu atau seseorang. Pengetahuan pada intinya adalah terkait dengan tindakan manusia (Nonaka & Takeuchi, 1995). Pengetahuan sebagai informasi yang dapat ditindaklanjuti atau yang dapat digunakan sebagai dasar untuk bertindak, untuk mengambil keputusan, dan untuk menempuh arah strategi baru (Drucker, 1988; Tobing, 2007).
Pengetahuan tidak hanya berhubungan dengan data yang didengar dan juga informasi yang bisa memengaruhi Pengetahuan. Pengetahuan tidak berhenti pada informasi. Pengetahuan mencakup pengertian tentang bagaimana informasi itu terjadi (ada) dan apa akibat yang akan terjadi. Pengetahuan adalah informasi yang dikombinasikan dengan pengalaman, konteks, interpretasi, dan refleksi (Davenport, 1998). Pengetahuan bersifat tergantung konteks (Nonaka & Teece, 2001). Perbedaan dari data, informasi dan Pengetahuan yaitu data adalah elemen analisis, informasi adalah data dengan konteks, dan Pengetahuan adalah informasi dengan makna (Leibold, Probst & Gibbert, 2005). Pengetahuan merupakan aset yang tak berwujud. Pengetahuan merupakan kekayaan yang tidak kelihatan, tetapi data tidak habis terpakai. Aset yang kelihatan bisa menjadi usang dan rusak, tetapi Pengetahuan tetap ada bahkan dapat diperbarui. Pengetahuan menjadi kebijaksanaan kalau dijadikan menjadi sebuah nilai. Kebijaksanaan mengandalkan adanya kecerdasan untuk melihat dan melakukan sesuatu. Karena belajar dari pengalaman dan menerapkan pelajaran itu untuk memperoleh wawasan dan pandangan ke depan yang lebih besar. Dari perspektif organisasi, kebijaksanaan artinya melakukan sesuatu secara lebih cepat, lebih murah, dan lebih baik. Kebijaksanaan bersifat dapat ditindaklanjuti dan inovatif (Benton & Giovagnoli, 2006).
Proses timbulnya Pengetahuan dapat terjadi melalui pengalaman dan data yang dimiliki oleh organisasi seperti gambar berikut (Pasaribu, 2013):

Data adalah fakta mengenai suatu kejadian. Organisasi memiliki banyak data. Misalnya data data penjualan, pendapatan, biaya, produksi, keuntungan, dan pelanggan. Melalui proses pengolahan data maka data divalidasi, dikelompokkan dan diolah untuk memahami hubungannya. Data yang mengandung pesan disebut informasi. Bila informasi ini diolah lagi dengan membandingkan, menghubungkan, dan dikomunikasikan sehingga polanya dapat dipahami. Apabila polanya telah dipahami maka organisasi memiliki Pengetahuan. Karena informasi ini telah diaplikasikan dalam konteks maka Pengetahuan yang sudah dipahami dan diterapkan dalam organisasi merupakan inovasi, kebijakan, dan prinsip yang baru yang disebut sebagai kebijaksanaan (Pasaribu, 2013).
Penyebaran Pengetahuan Di Organisasi
Organisasi sebaiknya selalu mengembangkan Pengetahuan yang dimiliki. Dengan menyebarkan Pengetahuan yang dimiliki maka organisasi itu akan lebih maju dan berkembang. Data harus dijamin kerahasiaannya oleh sekelompok orang, misalnya di tingkat individu atau group. Informasi bisa diketahui lebih banyak anggota organisasi sampai pada level bidang atau divisi. Pengetahuan atau kebijaksanaan sedapat mungkin disebar di setiap lini organisasi. Ini tujuannya agar kegiatan organisasi lebih lancar. Penyebaran Pengetahuan di dalam organisasi berbasis pengetahuan merupakan keharusan dalam organisasi yang mengimplementasikan organizational learning. Dari data menjadi informasi selanjutnya menjelma menjadi Pengetahuan. Pengetahuan atau kebijaksanaan yang dimiliki organisasi harus terbuka seluas-luasnya ke semua lapisan organisasi (Pasaribu, 2013). Penyebaran Pengetahuan di organisasi adalah sebagai berikut (Pasaribu, 2013):

Proses data menjadi Pengetahuan di lingkungan organisasi termasuk di organizational learning. Dari data menjadi informasi, selanjutnya menjadi Pengetahuan di lingkungan organisasi (Romhardt, 2000 dalam Pasaribu, 2013):

Pengetahuan dapat berupa kompetensi, keterampilan, dan pengalaman yang dimiliki oleh tim maupun individu di dalam organisasi. Dengan konsep Organizational Learning maupun berbasis Pengetahuan maka kompetensi, keterampilan, pengalaman, dan pengetahuan akan menyebar ke seluruh elemen di lingkungan organisasi. Hanya dengan cara ini maka keunggulan organisasi akan dapat meningkatkan pelayanan dan kinerja layanan sehingga tercipta secara berkesinambungan (Pasaribu, 2013).
Karakteristik Pengetahuan
Aplikasi Pengetahuan pada organisasi memerlukan pemahaman ciri-ciri Pengetahuan terutama bila ditransfer atau dibagikan. Definisi Pengetahuan yaitu (Polanyi, 1966); (1) Pengetahuan dapat bersifat tacit atau bersifat pribadi dan (2) Pengetahuan dapat bersifat eksplisit atau sudah dikodifikasi atau diabstraksikan, terstruktur pemahamannya, dan dapat diterima oleh siapa saja tanpa bergantung pada bantuan sumbernya. Maka karakteristik dan ciri pengetahuan yaitu (Nonaka, 1990 dalam Pasaribu, 2013):

Pengetahuan eksplisit dapat dibagi dalam bentuk data, formula ilmiah, spesifikasi, manual, dan dalam program komputer; penerima Pengetahuan dari transfer dapat memakai ulang secara relatif cepat (Nonaka, Toyama, dan Kono, 2001). Pengetahuan tacit sangat bersifat personal dan sulit diformulasikan sehingga memerlukan komunikasi khusus bila dibagikan dengan orang lain (Pasaribu, 2013).
Ciri Pengetahuan tacit yaitu mengandung arti subjektif pada perilaku manusia (Spenser, 1996). Pengetahuan eksplisit merupakan bahan objektif yang dapat dibaca dan dikuasai dan tanpa bergatung pada penjelasan sumbernya. Ciri Pengetahuan bisa diperluas menjadi 3 (tiga) tipe (English & Baker, 2006): Pengetahuan tacit, implisit, dan eksplisit. Bila Pengetahuan tacit tidak terlepas dari sumbernya, Pengetahuan eksplisit dapat terlepas dari sumbernya dalam bentuk tertulis, dan Pengetahuan implisit mengandung keduanya. Unsur Pengetahuan tacit dapat disadap atau dapat ditarik keluar dari pikiran orang untuk didokumentasikan menjadi Pengetahuan eksplist untuk digunakan oleh lebih banyak orang.
Pentingnya Pengetahuan di Organisasi
Pengetahuan yang dimiliki anggota organisasi dan disebarkan ke seluruh aspek organisasi maka hal itu menjadi sebuah pengetahuan di organisasi. Pengetahuan itu sangat penting tidak hanya bagi keberlangsungan organisasi tersebut, tetapi bisa jadi penentu keberlanjutan organisasi tersebut. Karena dengan pengetahuan itulah maka organisasi mempunyai arah dan cara di dalam mengoperasionalisasikan visi, misi, tata nilai, dan strategi organisasi. Sedemikian pentingnya pengetahuan, sampai-sampai Francis Bacon mengatakan bahwa “Pengetahuan adalah kekuatan”.

(sumber: http://lh6.ggpht.com/-ei6vBB_VqYc/VAvbJ6xLI1I/AAAAAAAAghM/W_Cy4TNxsRA/Francis%252520Bacon%252520Knowledge%252520is%252520Power%252520quote-8×6.jpg?imgmax=800. Diakses 17-8-2020)
Namun yang perlu diperhatikan, pengetahuan ini bukan untuk semata-mata menjadi alat kuasa. Alat kuasa dalam arti untuk memonopoli dan berbuat kesewang-wenangan. Bukan untuk menjajah dan menganeksasi. Pengetahuan adalah alat untuk melakukan dan menyebarkan kebaikan. Sehingga pengetahuan yang pertama dan utama adalah pengetahuan tentang diri sendiri seperti yang dikatakan oleh Gede Prama. Diri ini bisa diri individu, bisa juga diri organisasi. Sehingga dengan memiliki pengetahuan tentang diri maka paling tidak kita bisa memahami siapa diri kita dan hal baik apa yang bisa kita kontribusikan bagi di luar diri kita.

(sumber: https://www.bellofpeace.org/wp-content/uploads/2016/05/the-king.jpg. diakses 17-8-2020)
Sebagai penutup, pertanyaan yang muncul adalah apakah pengetahuan itu penentu segalanya dan mutlak? Tentu tidak. Pengetahuan itu adalah sebuah langkah awal bagi proses selanjutnya yaitu bertindak dan berhasil. Jadi sebuah langkah pertama yang kecil dan sederhana tentu akan bermakna penting ketika suatu saat nanti kita telah sampai pada hasil dan pencapaian. Seperti yang dikatakan oleh Lao Tzu bahwa “Perjalanan yang panjang dimulai dari sebuah langkah kecil”. Selamat mencari pengetahuan, dan selamat berbagi pengetahuan.

(sumber: https://quotefancy.com/quote/1116/Lao-Tzu-The-journey-of-a-thousand-miles-begins-with-a-single-step. Diakses 14-8-2020)
Oleh:
Nicholas Simarmata, S.Psi., M.A.
PUSTAKA
Benton, S. & Giovagnoli, M. (2006). The wisdom network: An 8-step process for identifying, sharing, leveraging individual expertise. New York: Amacom.
Davenport, T.H. & Prusak, L. (1998). Working knowledge. Boston: Harvard Business School Press.
Drucker, P.F. (1988). The coming on the new organization. Harvard Business Review. Volume 66. Nomor 1. Halaman 45-53.
English, M.J. & Baker, W.H. (2006). Winning the knowledge transfer race: Using your company’s knowledge asset to get ahead of the competition. USA: McGraw-Hill Companies, Inc.
Kamus Bahasa Indonesia. (2008). Pusat Bahasa. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. ISBN 978-979-689-779-1.
Leibold, M., Probst, G., & Gibbert, M. (2005). Strategic management in the knowledge economy. Erlangen: Publicis.
Nonaka, I. & Takeuchi, H. (1995). The knowledge: Creating company – How japanese companies create the dynamic of innovation. New York: Oxford University Press.
Nonaka, I. & Teece, D.J. (2001). Managing industrial knowledge. London: SAGE Publication, Ltd.
Nonaka, I. (1990). A theory of organizational knowledge creation. Tokyo: Nihon Keizai Shimbun-sha.
Nonaka, I. (1994). A dynamic theory of organizational knowledge creation. Organization science. Volume 5. Halaman 14-37.
Nonaka, I., Toyama, R., & Konno, N. (2001). Knowledge, creation and leadership. Dalam Nonaka, I. & David, T.J. (2001). Managing industrial knowledge. London: SAGE Publication, Ltd.
Pasaribu, M. (2013). Best practices dan BUMN: Melalui sharing best practices BUMN bisa melayani lebih baik. Jakarta: Penerbit PT Elex Media Komputindo
Polanyi, M. (1966). The tacit dimension. New York: Doubleday.
Romhardt, G.P.S.R.K. (2000). Managing knowledge: Building blocks for success. New York: John Wiley & Sons Ltd.
Schoenhoff, D.M. (1993). The interface of computerized knowledge systems and indigenous knowledge systems. New York: Greenwood.
Spenser, J.C. (1996). Competitive advantage from tacit knowledge? Unpacking the concept and its stratgeic implications. Dalam Mosigen & Edmondson (Editor). Organizational learning and competitive advantage. London: SAGE publications.
Tiwana, A. (2000). The knowledge management toolkit: Orchestrating IT, strategy & knowledge management platforms. New Jersey: Prentice-Hall.
Tobing, P.L. (2007). Knowledge management: Konsep, arsitejtur, dan implementasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.





