
(Sumber: http://leadershipquote.org/are-you-strong-intelligent-or-responsive-to-change/ Diakses 26-8-2020)
Sepertinya quote dari Charles Darwin sudah seringkali kita baca, kita dengar, kita ucap, namun seringkali juga tetap saja susah dan sulit untuk kita lakukan dan laksanakan. Namun mungkin itu adalah “resep” atau formula paling mempan agar kita tidak hanya bisa bertahan dalam kehidupan, namun juga memenangkan kehidupan itu sendiri. Hal ini termasuk juga dialami oleh organisasi. Maka dari itu organisasi perlu memiliki budaya yang dinamakan budaya adaptif.
Budaya adaptif merupakan kata kunci keberhasilan organisasi dalam mencapai sasarannya yakni berupa budaya organisasi yang positif. Arti adaptif adalah bersifat khas yang mengandung makna bahwa setiap organisasi memiliki kriteria yang berbeda dengan yang lain (Budiharjo, 2014). Budaya adaptif adalah ketika pemimpin organisasi sangat peduli pada pelanggan, pemegang saham, dan karyawan. Pemimpin tersebut sangat menghargai orang dan proses manajemen serta melakukan perubahan yang signifikan. Budaya adaptif memperhatikan secara seksama semua konstituen mereka dan berinisiatif melakukan perubahan demi memenuhi keinginan konstituen mereka sekalipun harus mengambil keputusan yang berisiko (Kotter & Heskett, 1992).
Agar bisa berubah mengikuti arus perkembangan, maka organisasi perlu mengacu pada apa yang dinamakan dengan sistem terbuka. Sebab organisasi yang menganut sistem terbuka akan memperhitungkan faktor lingkungan bisnis internal dan eksternal demi kelangsungan hidupnya (Budiharjo, 2014). Organisasi bersistem terbuka selalu berupaya mempedulikan masukan, saran, umpan balik, informasi, tuntutan, keinginan dari lingkungan bisnis untuk kemudian dipertimbangkannya (Robbins, 1990). Sistem terbuka memiliki karakteristik peduli terhadap lingkungan dan memperhatikan keterkaitan antara sistem dan lingkungan. Dalam konteks manajemen, lingkungan bisnis adalah pada stakeholders yang antara lain adalah pelanggan, karyawan, pemilik pemasok, pesaing, pemerintah, asosiasi, komunitas masyarakat, dan special interest group. Sehingga organisasi yang menganut sistem terbuka maka akan menaruh perhatian terhadap tuntutan dan kebutuhan lingkungan yakni stakeholders agar organisasi dapat bertahan, tumbuh, dan berkelanjutan. Sistem terbuka merupakan kata yang generik sebab what to open dan how to open sangat tergantung industrinya. Sistem terbuka diterjemahkan sebagai orientasi pada pemangku kepentingan khususnya pelanggan (Budiharjo, 2014).
Terkait dengan budaya adaptif dengan sistem terbuka maka organisasi menggunakan riset pasar dan manajemen pengetahuan untuk mencari peluang inovatif baru, baik dalam bentuk produk, jasa atau layanan. Dalam hal ini, divisi atau departemen penelitian dan pengembangan (litbang) organisasi perlu rutin bereksperimen untuk menemukan luaran yang bernilai tambah. Organisasi juga perlu melakukan survei atau penelitian untuk mengetahui apa yang dikehendaki dan dibutuhkan pelanggan. Seiring pemanfaatan teknologi maju yang semakin umum maka pelayanan kepuasan pelanggan akan banyak terkait dengan kecanggihan teknologi yang dipergunakan. Karena pemenuhan kebutuhan berkaitan dengan IT akan memuaskan pelanggan. Termasuk juga, layanan sistem daring dan manual harus diberikan untuk memenuhi kepuasan pelanggan yang beragam. Organisasi yang menganut sistem terbuka memiliki karakteristik yaitu berupaya selalu menyesuaikan dengan lingkungan berdasarkan informasi yang diperolehnya. Sehingga organisasi akan memiliki orientasi untuk bertumbuh serta menggunakan berbagai cara untuk mencapai sasaran (Katz & Kahn, 1978).
Dalam sistem terbuka tampak bahwa input, proses, serta output organisasi dipengaruhi oleh lingkungannya. Sehingga setiap elemen di dalam organisasi akan berhubungan dengan lingkungan bisnis. Maka budaya organisasi harus adaptif yaitu mempertimbangkan faktor lingkungan dan organisasi sebaiknya memiliki paradigma sistem terbuka. Yang tidak kalah penting adalah teknologi perlu dimasukkan di dalam nilai organisasi, selain integritas dan inovasi (Budiharjo, 2014). Sehingga organisasi memiliki modal dan kemampuan baik secara tangible maupun intangible.
Oleh:
Nicholas Simarmata, M.A.
Daftar Pustaka
Budiharjo, A. (2014). Corporate Culture in Action: Membangun Budaya Profesional untuk Memenangkan Persaingan Bisnis. Jakarta: Prasetiya Mulya Publishing. ISBN 978-602-1571-00-2.
Kotter, J.P., & Heskett, J.L. (1992). Corporate Culture and Performance. New York: Free Press.
Robbins, S. 1990. Organization Theory: Structure, Designs & Applications. USA: Prentice Hall, Inc.
Katz, D., & Kahn, R. L. (1978). The social psychology of organizations. New York: Wiley.





