Sudah sekitar 5 tahun saya merantau kerja di Bali. Maka ketika saya pulang kampung halaman ke Jogja, saya bergairah untuk mengunjungi lagi tempat-tempat yang memiliki kenangan bagi saya. Dan kala itu saya mengunjungi Warung Kopi Joss “Lek Man”. Tempat ini cukup terkenal. Terkenal bagi orang Jogja maupun bagi para mahasiswa perantau atau wisatawan yang sedang berkunjung ke Jogja. Letaknya persis di sebelah utara stasiun Tugu Yogyakarta.
Saat saya sedang menikmati sajian dan suasana sore hari di Warung tersebut, tanpa sengaja saya bertemu dengan kawan lama saya. Kami sudah tidak bertatap muka selama kurang lebih 10 tahun. Kami berteman ketika kami menempuh S1 di Yogyakarta. Saat ini dia memegang sebuah organisasi cabang dari Singapura karena dia sudah bekerja di organisasi tersebut selama 17 tahun. Ibaratnya, dia “tangan kanan” bossnya di Singapura.
Singkat cerita, setelah saling “curhat” tentang masa lalu kami, tanpa sengaja, perbincangan kami sampai kepada apa dan bagaimana menjadi excellent organization itu. Wah, ini kesempatan yang sangat bagus bagi saya untuk belajar dari dia sebagai praktisi yang sudah berpengalaman. Dia bilang kepada saya, “Semua yang besar, dimulai dari yang kecil. Semua yang hebat, dimulai dari yang sederhana”. Lalu saya menyahut, “Mmm…, kalau itu sih, saya juga sudah tahu”. Lalu dia langsung menyambung, “Ya, karena kamu tahu nggak, kalau organisasi yang unggul itu dimulai dari urusan WC alias Toilet?!. “Apa…???!!! Yang bener aja…..!!!!”, timpal saya tidak percaya, kaget, dan heran. Saya juga mulai ragu dan bertanya-tanya, bagaimana mungkin sebuah tempat yang kotor (maaf) bisa menjadi titik pangkal sebuah organisasi menjadi besar. Dengan sabar dan seksama, dia lalu mulai merincikan filosofi apa yang dia maksud yang barusan dia katakan.
“Organisasi yang hebat itu dimulai dari urusan WC, baik pemakai WCnya maupun WCnya sendiri. Mari kita bahas mulai dari “pengunjung” atau pemakai WC. Pemakai WC itu manusia. Artinya manusia punya ritual tiap pagi ataupun secara acak untuk menuntaskan “panggilan alam” alias Buang Air Besar (BAB) dan Buang Air Kecil (BAK). “Panggilan” ini tidak bisa dianggap sepele dan remeh. Karena sudah banyak dipaparkan oleh Ilmu Kedokteran bahwa menahan BAB akan berdampak pada semacam sembelit, konstipasi, wasir, dan impaksi. Sedangkan menahan BAK akan berakibat pada semacam inkontinesia urine, infeksi saluran kemih, retensi urine, dan batu ginjal. Intinya, menahan sesuatu yang harus disegerakan akan mengakibatkan timbulnya berbagai macam penyakit.
Lalu kita bahas perihal WC itu sendiri. WC biasanya ditempatkan di belakang atau di samping atau “tersembunyi” di sebuah rumah. Artinya, orang kalau mau pamer biasanya pamer ruang tamunya, pamer ruang makannya, pamer dapurnya, pamer tamannya, pamer ruang rekreasinya, dan kadang-kadang pamer ruang tidurnya. Tapi sepertinya kok jarang, mungkin tidak pernah, yang pamer WCnya. Kenapa? Karena tempat ini diindentikkan dengan sesuatu yang kotor. Meskipun memang ini tempat membuang kotoran. Tapi apakah WC tidak perlu mendapat prioritas? Bukankah WC juga sebuah ruangan atau tempat yang wajib ada di sebuah rumah di jaman sekarang? Apakah WC tidak layak juga dijaga kebersihannya seperti layaknya ruangan yang lain?
Dari dua ilustrasi tentang WC ini, maka tarikannya ke organisasi adalah begini. Seringkali kita dalam bekerja, entah melayani atasan, melayani teman, melayani organisasi, atau melayani masyarakat, ataupun melayani diri sendiri, kita mengatakan Tar Sok, Tar Sok alias Entar Besok, Entar Besok. Dengan gampangnya kita bilang: SEBENTAR atau NANTI. Ok, jika itu memang bukan atau belum saatnya. Tapi bagaimana jika itu adalah sebuah kata yang kita lontarkan sebagai dalih kalau kita memang tidak memberi perhatian atau komitmen atau dedikasi terhadap apa yang kita kerjakan dan siapa yang kita layani?! Dengan kita mengatakan sebentar atau nanti, itu seberapa lama? 1 menit, 1 jam, 1 hari, atau 1 tahun? Pilihan kata seringkali menentukan rasa dan respon. Alangkah baiknya jika gunakan kata SEGERA. Kata ini juga tidak mengandung satuan waktu yang spesifik dan kata ini masih jarang digunakan. Tapi kata ini menurut saya lain makna dan rasanya. Seperti “panggilan alam” yang perlu disegerakan tadi. Segera berarti kita menyegerakan. Sebentar berarti kita menyebentarkan. Ada yang beda dan aneh, bukan??? 😊 Sepertinya kita jarang menyadari dan merenungi perbedaan dua kata ini. Segera berarti kita berusaha untuk menuntaskan sesuai prioritas. Dengan menyegerakan pelayanan kita maka kita meminimalisir atau menekan “penyakit” atau masalah yang timbul akibat kita menundanya.
Ada istilah dalam bahasa Inggris: The last but not the least. Tempat terkecil dan terbelakang bahkan tempat untuk membuang kotoran, bukan berarti tempat itu tidak penting. Bahkan jika saya menilai kinerja sebuah organisasi, kadang saya sengaja untuk melihat WCnya. Kenapa? Karena analoginya, jika tempat “kotor” saja bersih, apalagi tempat yang memang sudah seharusnya bersih. Bukan berarti pula WC harus dibangun berlapis emas. Karena yang penting bukan membentuk atau membangunnya, tapi bagaimana merawat dan menjaganya. Sehingga jika kita memperhatikan hal-hal yang tampaknya kecil namun bisa jadi itu berdampak pada hal besar. Apakah kita sedang melayani seorang tukang becak atau sedang melayani seorang pejabat, maka kesungguhan dan ketulusan pelayanan kita haruslah sama. Kenapa? Karena yang kita layani sama-sama manusia. Jadi yang kita layani adalah kemanusiaannya, bukan pangkat dan derajatnya. Mengapa? Karena siapapun kita, tentu kita juga ingin dilayani selayaknya manusia. Jadi wajar dan berimbang, bukan?!”
Waduh, sangking lamanya saya menatap dan mendengar ulasan teman saya, saya sampai tidak sadar bahwa pertanyaan retoris itu adalah akhir dari cerita dia. Dan saya merasa cukup beruntung mendengar dan mengetahui cerita tersebut. Saya menjadi tahu apa dan bagaimana membangun dan mencapai excellent organization. Selain itu, paling tidak, cerita tersebut menginspirasi saya untuk memperbaiki diri saya dan kinerja saya dalam bekerja dan berkarya. Karena saya percaya bahwa setiap hal adalah kesempatan dan pembelajaran.
Oleh”
Nicholas Simarmata, S.Psi, M.A.





